Wawancara Kerja

“Dulu, saat aku wawancara untuk bekerja di perusahaan Jepang, aku justru ditanya, apa alasanku mengajukan lamaran pada mereka,” cerita ini diuraikan oleh sepupu jauhku, setelah aku curhat di grup WhatsApp keluarga tentang pertanyaan aneh yang menjegalku.

“Lalu, kau jawab apa?” seorang sepupu lainnya telah lebih dahulu melontarkan pertanyaan itu. Aku yang ingin mengetikkan pertanyaan yang sama mengurungkan niat dan menunggu dia menjawab.

“Uang. Aku menjawab itu. Demi uang.”

Hah? Aku melongo. Bukankah banyak temanku yang sesama pengangguran menyarankan jika ditanya motivasi mengajukan lamaran adalah cari pengalaman. Sial! Jangan-jangan itu juga yang telah membuatku gagal selama ini.

“Kau jujur sekali.” Seorang anak pamanku menjawab demikian.

“Ya, iyalah, kita kerja kan buat cari duit. Buat makan. Buat hidup. Jangan sok munafiklah jadi orang. Jawab apa adanya. Itu kunci wawancara kerja.”

Aku ingin sekali menulis jawaban di sana, saat ditanya agamamu apa kemarin, aku juga sudah menjawab apa adanya. Memang demikian. Agamaku A sejak lahir. Namun pada kenyataannya aku gagal.

“Sebenarnya, kunci dari wawancara kerja itu kau memberikan jawaban yang disenangi oleh orang yang menanyaimu.”

Kampret! Aku ingin sekali memaki sepupu jauhku itu. Semua orang tahu akan itu, tapi tak semua orang bisa menerka isi kepala seseorang. Jadi siapa yang bisa tahu, jawaban apa yang disenangi oleh pewawancara?

Sial! Aku bukan termotivasi setelah meminta saran mereka, tapi justru akan semakin putus asa. Pintu di depanku kembali berderit. Aku seketika menegakkan leher. Kembali, perempuan dibalut blazer biru laut itu muncul. Tangan kirinya tetap memegang clipboard. Dia menekuri daflar nama yang tertera di sana.

“Cristian Hadinata,” dia menyebut nama seseorang.

Dan seperti tadi, seseorang yang disebutkan namanya mengikuti langkah perempuan itu. Sayangnya, setiap orang yang keluar dari ruangan ini tak pernah kembali ke sini. Mereka seolah diambil dan tak bisa pulang lagi.

Tiba-tiba saja, imajinasi liar meledak di kepalaku. Bagaimana jika mereka yang telah mengikuti perempuan itu benar-benar tak kembali? Mereka telah diculik dan dihilangkan untuk selama-lamanya. Oh, tidak. Bisa jadi mereka telah dikirim ke galaksi lain, diperbudak oleh alien, bekerja tanpa gaji.

Hampir saja tawaku menyembur.

Edan!

Arsip Cerpen di Indonesia