“Pilih partai mana waktu itu. Pilih partai tuhan atau partai setan?”
Aku seketika melongo. Tak bisa berkata. Tak bisa bergerak. Mataku lurus menatap laki-laki di depanku. Dia tetap tersenyum. Ramah. Santun. Dan menunggu. Menunggu jawabanku. Aku lemas. Tak bisa menerka. jawaban apa yang disenanginya. Aku tak pernah tahu, apa hubungan pekerjaan ini dengan partai yang dulu kudukung, juga tentang agama yang kuanut. Kepalaku pening. ***
Guntur Alam, buku kumpulan cerpen gotiknya Magi Perempuan dan Malam Kunang-kunang, Gramedia Pustaka Utama, 2015.