Aku bimbang untuk menemuimu semata hanya karena aku takut kau meninggalkanku sekali lagi. Kau mendatangi kotaku hanya sebatas mengisi sebuah acara. Tentu tak akan lama kau bermukim di sini. Perpisahan tentu tak dapat dielak sekali lagi. Aku tak siap apabila pertemuan kita hanyalah berakhir dengan perpisahan, sekali lagi.
Tapi benar apa kata Ratih; paling tidak aku harus meminta maaf kepadamu. Apa yang pernah terjadi di antara kita sepuluh tahun lalu sepenuhnya adalah kesalahanku. Kau yang hendak melamarku mendapat tentangan keras dari bapakku lantaran dalam tubuhmu mengalir darah Bugis. Melihat tak ada jalan baik agar kita bisa menikah, kau mengajakku silariang (kawin lari). Teramu, silariang adalah jalan terakhir bagi hubungan yang ditentang adat. Aku tak bersedia. Tak siap mengorbankan hubunganku dengan bapak demi hidup bersamamu. Dan pada akhirnya perpisahan kita di pelabuhan sepuluh tahun lalu tak terelakkan juga.
Tapi, di antara banyak kafe di kota ini, kenapa kau memilih kafe yang terletak di sudut jalan itu dan dekat dengan traffict light? Kafe yang sejak sepuluh tahun lalu tak banyak berubah. Maksudku, interior kafe itu memang didesain sedemikian menarik sekarang, benarbenar memanjakan siapa saja yang datang berkunjung, tapi tidak bagian luarnya. Tanah menuju jalan masuk kafe itu tetap dibiarkan terbuka oleh pemiliknya. Tanpa pernah ditutupi apa pun, semisal paving blok atau pun beton tipis. Hanya rumputrumput kecil yang juga seolah sengaja tak pernah dibiarkan melebat. Ya, persis sepuluh tahun lalu ketika kau dan aku masih sering ke kafe itu. Apa pemiliknya membayangkan suatu saat nanti kita berdua akan kembali ke kafe itu dan menikmati aroma hujan bersama-sama?
***
Aku mengenalmu sebagai lelaki petrichor,—setelah beberapa kali aku memanggilmu lelaki hujan.
“Aku tak memburu hujan, Ri. Aku mencari bau udara yang disisakan hujan. Itulah kenapa aku suka ke kafe ini.”
“Apa bedanya dengan kafe lain?”
Kau tersenyum lalu menggamit tanganku dan menarikku keluar dari kafe itu. Kita meninggalkan dua gelas kopi yang masih mengepulkan uap, berikut laptop yang masih menyala, serta catatan-catatan kecilmu yang bersiap berubah jadi cerita. Hujan sudah mulai melambat saat itu.