Aku Masih Mencintaimu dan Aku Benci Pertemuan Ini

Saat itu, merahasiakan salah satu bagian cerita terkelam dalam hidupku kupikir adalah pilihan tepat. Aku hanya tak ingin merusak suasana hari itu dan hari-hari berikutnya. Maksudku, sebagai lelaki Bugis kau tak seharusnya mendengar cerita itu. Aku khawatir, setelah mendengarkannya, hubungan kita yang mulai beranjak serius menjadi terganggu. Nyatanya, aku telah melakukan sebuah kesalahan.

Jauh sebelum kau datang ke kota ini, jauh sebelum aku dan kau dilahirkan, suatu masa pernah terjadi konflik adat yang melibatkan sepasang anak manusia—ya, ayah dan ibuku. Dua orang yang berbeda nasib, namun hidup mereka terjalin dalam suatu urusan pelik; cinta.

Ayahku berkisah dengan dada remuk redam.

Ayahku mencintai ibuku. Namun, perasaannya menjadi tidak mungkin sebab ia datang dari golongan sosial yang rendah. Sama sekali berbeda dengan ibuku yang keluarganya selalu menjadi junjungan. Terlebih ibuku memang tak pernah memandangnya. Di dadanya hanya ada satu nama pria yang ia cintai dan itu bukan ayahku.

Bagaimana kemudian ayah dan ibuku akhirnya menikah, sungguh itu kebetulan yang brengsek dan akan sangat memalukan sekaligus menyedihkan apabila kuceritakan kepadamu, di kafe itu, di antara sisa-sisa petrichor.

Ibuku yang masih berseragam SMA tahu-tahu telah hamil. Siapa lagi ayah dari benih itu kalau bukan satu-satunya pria yang dicintainya itu? Sial, pria itu menolak bertanggung jawab, bahkan tak mengakui perbuatannya. Pikiran ibuku menjadi terganggu. Dan agar kesintingannya tak bertambah atas penghakiman-penghakiman masyarakat dan keluarga sendiri, ia memutuskan melarikan diri dengan bayi di dalam perutnya.

Cinta memang kadang-kadang tak masuk diakal. Ayahku yang tahu perihal kehamilan itu, bergerak mencari ibuku. Ia menemukannya dan menawarkan menjadi ayah dari anak itu dengan syarat mereka harus meninggalkan tanah Bugis sejauh mungkin dan tak akan pernah kembali lagi. Ibuku yang tak punya pilihan, menyanggupi syarat itu dan memilih kota ini sebagai tempat pelarian mereka. Mereka menikah dan beberapa bulan kemudian lahirlah aku.

Arsip Cerpen di Indonesia