Dua puluh tahun lamanya kami bertiga hidup tenang. Tapi pada suatu hari, ibuku tak mampu menahan kerinduannya kepada tanah kelahirannya, Bugis. Dengan segenap rasa sesal, ia diam-diam meninggalkan aku dan ayah, dan mulai saat itu ayahku menjadi sangat benci dengan segala hal yang berhubungan dengan Bugis. Alasan yang sama kenapa ayahku sangat melarang aku dekat denganmu. Kau pemuda Bugis dan ia tak ingin kedua kalinya kehilangan orang yang ia kasihi. Ia menjagaku dari kemungkinan mengikutimu kembali ke tanah Bugis, ya, kautahu sendiri, meskipun sebenarnya ia adalah ayah tiriku.
Seharusnya itu semua tuntas kuceritakan kepadamu agar kita tak berpisah dengan cara yang kaku seperti sepuluh tahun lalu. Agar kau bisa memaafkanku dan sedikit saja menyimpanku di antara sudut matamu yang nyalang. Aroma hujan kala itu seketika menjadi hambar manakala lamat Tilongkabila lenyap di bawah langit petang.
***
Magrib baru saja berlalu ketika kucukupkan segala kenangan itu. Gerengan mesin mobil Ratih mulai sayup terdengar. Aku tak juga memutuskan apa-apa. Bulukumba, Desember 2018
Andi Makkaraja lahir di Bulukumba, 10 Oktober. Bekerja sebagai tenaga pengajar di sebuah Sekolah Dasar Negeri dan sebagai penulis lepas. Beberapa karyanya dimuat media cetak dan online. Meraih penghargaan Kemendikbud sebagai penulis cerita anak terbaik pada tahun 2016. Tahun 2018, ia meraih beberapa penghargaan: juara 1 lomba menulis cerpen Prosa Tujuh, juara 1 Sayembara Novel Anak Direktorat Pendidikan Sekolah Dasar, juara Harapan 1 Lomba Menulis Cerpen Pesma Annajah Purwokerto, dan juara 1 Lomba Menulis Cerpen Festival Wakatobi. Saat ini ia menetap di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Kontak penulis di pos-el: andimakkaraja@yahoo.co.id) dan WhatsApp: 082290810448.