Aku Masih Mencintaimu dan Aku Benci Pertemuan Ini

“Lihatlah. Hujannya terjatuh tepat ke dalam tanah yang cuma tertutupi rumput tipis itu. Kau tahu yang terjadi setelahnya, Ri?”

Tanpa menunggu jawabanku— dan memang kurasa kau tak mengharapkannya—kau kembali menggamit tanganku. Menuntunku untuk lebih dekat ke tanah yang pelan-pelan masih dijatuhi butir demi butir air hujan.

“Pejamkan matamu. Hirup udara pelan-pelan.”

Kau lalu mencontohkan melakukannya dan aku mengikutimu sehingga saat itu kita terlihat seperti adegan drama picisan. Pengunjung kafe yang lain memperhatikan kita sembari tersenyum-senyum.

Ya, kau benar. Memang ada aroma unik yang segera memenuhi rongga dadaku saat itu. Aroma petrichor. Gabungan antara bau hujan dan bau tanah, katamu.

“Aroma ini membantuku menenangkan diri. Maksudku, aku selalu butuh hal-hal yang bisa menenangkanku kalau tiba-tiba merindukan anakku.” Seketika mataku membuka, lantas mengarahkannya kepadamu dengan guratan-guratan penuh tanya. Kau sudah punya anak? Kenapa kau tak pernah mengatakannya? Saat itu juga aku tiba-tiba merasa ada tembok tebal yang mengantarai kita. Dengan mengatakan kau sudah punya anak, itu berarti kau pun telah punya istri. Atau, apa yang sebenarnya terjadi, Ry?

“Ya, aku paham. Kau tentu terkejut mendengarnya. Tapi, seseorang kadang-kadang tak berbahagia dengan pernikahannya sendiri.”

Yang terjadi kemudian hanyalah hening. Suara mesin dan klakson kendaraan, serta riuh pengunjung kafe lamur oleh ricik demi ricik titik hujan yang kini semakin menyusut. Aroma tanah basah semakin memadati ruang dan kulihat kau terjatuh sangat jauh ke dalam lamunanmu sendiri.

“Ayolah, Ri. Kau pasti punya kenangan pahit, kan? Petrichor ini tak selalu datang, jangan kau biarkan kehadirannya menjadi percuma.” Ujarmu tiba-tiba setelah jeda hening yang kau ciptakan tadi.

Sampai bau hujan bercampur tanah itu habis dan kita kembali ke dalam kafe, aku sama sekali tak menceritakan apa-apa kepadamu. Hal yang kemudian sangat kusesali dan baru terasa setelah Tilongkabila membawamu pergi dari tanah Baubau ini sepuluh tahun lalu. Ya, seharusnya aku memberitahumu, terlebih cerita itu bersangkut-paut dengan alasan bagaimana hubungan kita menjadi teramat rumit.

***

Arsip Cerpen di Indonesia