Kue Gandus Nenek

“Kalau kue gandus cuma begini. Jauh lebih enak buatan menantuku. Tak jadi belilah aku.”

Aku yang waktu itu baru pulang sekolah dapat melihat dengan jelas, wajah bibi penjual kue keliling merah padam. Dia terlihat dongkol.

“Tapi nenek kan sudah nyicip. Masak nggak jadi beli,” ujarnya dengan keringat yang berpeluh di pelipisnya.

“Lah, kan cuma nyicip sedikit.”

Karena tak tega dengan bibi penjual makanan itu, aku segera masuk ke rumah. Meletakkan tas di kursi dan segera mencari ibu. Kutemukan ibu tengah bergelut dengan menu makan siang di dapur. Dia terlihat kusam dan buruk rupa. Secepat yang aku bisa, kuceritakan tragedi di teras depan. Ibu tak berkata sepatah kata pun, dia hanya meluncur ke arah kulkas, merogoh saku penutup kulkas dan tergesa menuju teras. Aku mengekor. Bibi penjual kue itu tengah bersungut-sungut sambil menaikkan nampah berisi kue ke atas kepalanya.

“Sebentar,” panggil ibu. “Saya mau beli.” Bibi itu tersenyum dan nenek mendengus.

Seharusnya nenek berterima kasih pada ibu. Dia telah menyelamatkan nenek dari rasa malu dengan membeli beberapa kue yang sebenarnya tidak ingin ibu beli dan makan. Namun ternyata, nenek tidak begitu. Dia terus saja mengoceh sepanjang siang sampai makan malam, tentang ibuku yang betapa bodohnya bisa ditipu oleh penjual kue keliling.

“Kau bayangkan saja, Sam. Istrimu ini bisa ditipu oleh penjual kue keliling. Hanya seorang penjual kue keliling. Aih, tak bisa kubayangkan bila dia dilepas ke kota besar. Pasti dia akan habis dimakan orang-orang berhati culas.”

Aku hanya melongo mendengar ucapan nenek itu. Siapa yang culas sebenarnya? Namun aku memilih diam. Sebab aku tak ingin melukai ibu. Bila aku membantah nenek, maka nenek dengan tanpa belas kasih akan menyerang ibu. Lalu ibu akan menangis. Dan aku benci melihat ibu menangis.

***

BUKAN aku ingin memuji ibuku, tapi menurutku ibu adalah menantu yang paling berbakti. Walau nenek tak sekali pun menunjukkan cinta kasih padanya, ibu tetap saja menghormati dan melayaninya sebaik mungkin. Aku tak sekadar memuji ibuku, tapi memang begitu. Bahkan ibuku hapal seluruh makanan kesukaan nenek, termasuk kue ulang tahunnya yang tak lazim. Kue gandus.

Arsip Cerpen di Indonesia