HANYA ada aku dan nenek, tak ada siapa-siapa di sini. Wajahnya terlihat kuyu. Slang infus terpasang di kulit tangannya yang keriput. Matanya yang tua tapi tetap awas, tersenyum melihatku muncul di ambang pintu kamar. Dia menggapai udara, aku berjalan pelan, duduk di sampingnya.
Lama nenek menatapku, lalu perlahan tangannya yang keriput membelai rambutku. Entah, apa yang terjadi, aku melihat mata nenek basah, lalu dia terisakisak. Aku diam. Aku hendak bertanya, tapi lidahku kesat. Tak sepotong kata pun meluncur dari mulutku.
“Kau mirip sekali dengan kakekmu. Itulah yang membuatku benci padamu,” nenek berkata terbata-bata. “Dia lelaki yang keras kepala, pemarah dan ringan tangan. Sementara aku. Perempuan penakut, tak becus dan selalu salah. Jadi, aku tak salah kan jika menganggap kematian kakekmu sebagai pintu gerbang kebebasanku, yang patut dirayakan?”
Aku menelan ludah, semakin tak bisa berkata-kata. Petang itu, aku mendengar sebuah cerita rahasia. Cerita yang langsung diutarakan pelakonnya. Dadaku sesak. Kebas. Antara marah atau tersentuh. Aku tak bisa membedakannya lagi.
“Aku tak pernah membenci ibumu. Aku hanya ingin dia tidak menjadi lembek dan penakut sepertiku. Makanya aku terus menerus memarahinya. Aku ingin dia kuat. Ayahmu tidak mirip dengan kakekmu. Aku bersyukur itu. Semoga kau tak membenciku. Aku sangat menyukai ibumu. Dia menantu yang baik.”
Dan aku tak tahu bila ternyata ibu tengah menangis di ambang pintu. Hanya saja, aku mencium bau bawang goreng dan seledri dari kue gandus yang hangat dan basah. []
Pali, 2018.
Tahun keempat tanpa nenek, semoga bahagia di sana.
Guntur Alam, buku kumpulan cerpen gotiknya Magi Perempuan dan Malam Kunang-kunang, Gramedia Pustaka Utama, 2015. Saat ini menetap di Pali.