Kue Gandus Nenek

Ya, nenek memang suka sekali makan kue gandus. Apalagi buatan ibu. Sebenarnya kue ini bukanlah kue yang lazim kau temukan di hari ulang tahun seseorang, tapi kue ini lazimnya dibuat dan dihidangkan pada hari hajatan kematian.

Aku pernah bertanya pada ibu, “Kenapa nenek suka sekali kue gandus? Terutama saat ulang tahunnya.”

“Aku tak tahu. Coba kau tanya ayahmu.”

Namun ibu tahu, aku tidak akan pernah berani bertanya tentang nenek pada ayah. Hubungan ayah dan nenek bisa dibilang tidak terlalu bagus. Walau mereka adalah ibu dan anak kandung. Sekarang aku baru paham, bagaimana ibu bisa menjalin hubungan yang harmonis dengan nenek, bila antara nenek dan ayah sebagai anak kandungnya saja, tak bisa mewujudkan itu.

Rahasia dibalik kesukaan nenek pada kue gandus di hari ulang tahunnya justru kudapatkan dari bibiku. Dia adik ayah. Dan hanya mereka berdua anak nenek.

“Kau tahu,” ucap bibi saat dia pertama kali hendak menceritakan rahasia itu. “Kue gandus biasanya kita makan saat di hajatan orang meninggal.”

Aku mengangguk. Itulah yang tidak lazim. Dan aku terus dihantui pertanyaan; kenapa? Apa yang membuat nenek selalu ingin makan kue gandus di hari ulang tahunnya? Bukankah hari ulang tahun harinya bersenang-senang dan riang gembira, tapi nenek justru makan makanan hari kesedihan di hari itu. Terdengar membingungkan, bukan?

“Karena nenek merayakan kematian seseorang,” suara bibi terdengar begitu dingin, aku bahkan meremang saat mendengar ucapan itu. “Kematian seseorang yang membuatnya bahagia.”

“Kenapa bisa?” aku tak habis pikir, adakah kematian seseorang justru membuat orang lain bahagia? Bukankah itu terdengar seperti psikopat?

Bibi hanya mengulas senyum, tipis. “Nenek merayakan kematian kakek.”

Aku tercekat. Menelan ludah. Dan bibi tak ingin menceritakan apa-apa lagi padaku. Dia memilih bungkam dan terus menghindar bila aku mengejar lebih jauh cerita tentang itu. Bibiku sudah menjahit mulutnya dan membuang gunting jauh ke dasar Sungai Lematang. Tak ada yang bisa mengambil gunting itu dan memotong benang yang menyatukan bibirnya. Tak akan ada lagi cerita dari mulut bibiku tentang nenek dan kue ulang tahunnya yang tak lazim. Aku tahu, itu artinya aku tak akan bisa memaksa bibi untuk menuntaskan ceritanya padaku.

***

Arsip Cerpen di Indonesia