Kue Gandus Nenek

SEJAK cerita bibi yang tak tuntas itu, aku lebih memperhatikan nenek. Bukan dalam artian aku lebih dekat dan lebih baik padanya. Tidak. Tak ada perubahan antara hubungan kami. Aku hanya diam-diam mencatat semua gerak-gerik nenek. Barulah aku menyadari sesuatu, nenek tidak pernah sekali pun berziarah ke kubur kakek, walau pun seluruh keluarga pergi ke sana jelang hari raya. Nenek lebih memilih berkurung di kamarnya.

Aku juga mulai menyadari, jika nenek sangat menghindari foto kakek yang berwarna hitam putih dan berukuran 10 R di ruang tamu rumah kami. Bila tengah ada di ruang tamu, nenek gegas sekali beranjak ke dapur. Dia lebih senang menonton tivi di sana, sembari mengocehi ibu dan sesekali membantu pekerjaan ibu.

Gerak-gerik nenek yang tak wajar ini, terus menimbulkan tanya dan misteri di benakku. Aku ingin tahu, tapi menemukan jalan buntu. Tak ada yang bisa kutanyai. Tidak ayah, kakakku dan ibu. Mereka seakan-akan tidak tahu tentang keganjilan yang nenek tunjukkan.

Namun waktu yang gegas dan beban di pundak yang semakin besar, pada akhirnya menenggelamkan keingintahuan kanak-kanakku itu. Perlahan-lahan aku disibukkan dengan urusan belajar dan tujuan hidup. Aku melupakan nenek dengan misteri tentang kakek, kue gandus, dan perayaan ulang tahunnya yang tak lazim itu. Terlebih seluruh isi rumah seolah tak menganggap kebiasaan nenek sesuatu yang ganjil. Hanya aku seorang. Dan aku belajar untuk menerimanya.

***

“KAU seharusnya langsung mengajukan cuti, saat ibu menelponmu,” ucap ibu yang menyambut kepulanganku. “Nenek terus menerus menanyakanmu.”

“Tak bisalah, Bu. Aku bisa pulang kalau bosku sudah menyetujui cutiku,” sanggahku. Ibu terlihat sibuk di dapur, seperti biasa.

“Apa yang ibu masak?”

“Nenekmu kepengin makan kue gandus,” jawabnya. “Pergilah ke rumah sakit. Tak ada yang menjaga nenek.”

Aku ingin membantah, tapi ibu memandangku dengan tatapan andalannya. Tatapan yang tak ingin dibantah. Aku meninggalkan ibu yang tengah mencampur tepung beras dengan santan kelapa. Di atas meja, aku sudah melihat bawang goreng dan potongan daun seledri. Aromanya membuatku melayang pada ingatan, betapa nenek jahat pada ibu, tapi ibu terus menerus berbakti padanya.

***

Arsip Cerpen di Indonesia