Elena

“Pak, ada tamu untuk Anda,” kata pengurus rumahku suatu pagi sambil membereskan piring-piring bekas sarapan.

“Siapa?”

“Majikanmu mengenalku, hanya itu yang dia katakan waktu saya tanya.”

“Di mana dia sekarang?”

“Menunggu di teras.”

Penasaran dengan sikap tamu yang misterius, kopi yang tersisa di cangkir kutandaskan sebelum menemuinya. Sosok yang semula duduk seketika bangkit mendengar pintu terbuka di belakangnya. Kami bertatapan. Meski tak bertemu bertahun-tahun, aku masih mengenal sahabat masa kecilku.

“Apa kabar?” seruku gembira, “Kenapa tidak memberi tahu akan datang?”

“Ini tidak direncanakan. Aku ke sini karena ada urusan.”

“Oh ya, ada apa?” tanyaku sambil mengajaknya duduk di ruang tamu.

Dua menit kemudian pengurus rumahku datang dengan segelas minuman di atas nampan. Ditaruhnya di depan lelaki tersebut dan berlalu pergi. Lengan si tamu terulur, lalu meraih dan menyesap minuman yang dihidangkan sebelum mengutarakan alasan kedatangannya.

“Ini tentang Elena.”

Untuk sesaat aku tak mengerti maksudnya. Latihan bertahun-tahun menghilangkan ingatan tentang Elena ternyata cukup berhasil.

“Ada apa dengannya?”

“Sebagai keluarga terdekat kau harus turun tangan, meskipun selama ini tak pernah menjenguknya.”

Kubalas tatapan tajamnya dengan sorot mata tak peduli. Kau tidak mengalami yang aku alami, batinku.

“Katakan saja, ada apa dengannya?” ulangku.

Sang tamu menyandarkan punggung ke sandaran kursi.

“Entah bagaimana caranya, Elena berhasil kabur dari rumah sakit jiwa tempatnya dirawat. Tadi pagi dia mengetuk pintu rumahku dalam keadaan berantakan. Lutut dan sikunya biru lebam, sepertinya terjatuh. Telapak kakinya yang telanjang, terluka. Istriku sudah menyuruhnya mandi, memberi pakaian bersih dan mengobati lukanya.”

Di matanya terbaca kalimat tak terucapkan, kami sudah menolongnya sebagai tetangga yang baik. Sekarang tugasmu.

Arsip Cerpen di Indonesia