Elena

Elena kudapati duduk di kursi besi. Diamatinya sosok istri pemilik rumah yang sedang bekerja tanpa berkedip. Ia mengenakan baju terusan putih longgar. Saudara perempuanku terlihat tenggelam dalam pakaian yang terlalu besar di tubuh kecilnya. Melihatnya lagi setelah bertahun-tahun membuat perasaanku campur aduk. Aku gembira sekaligus kesal oleh kenyataan bahwa ia lebih memilih datang ke rumah orang lain daripada ke tempatku.

Mataku bertemu dengan mata sang nyonya rumah. Kuisyaratkan kepadanya untuk diam kemudian menghampiri Elena dan menunggu sampai dia menyadari kehadiranku.

“Siapa?” tanyanya.

“Roy. Aku saudaramu.”

“Saudara?” ulangnya bingung, “Aku punya saudara?”

“Ikut aku. Di sini bukan tempatmu.”

Perempuan itu ikut tanpa membantah. Hal ini yang aku suka darinya, dia begitu penurut.

Begitu sampai di rumah, kusuruh si pengurus rumah merapikan kamar belakang kemudian membeli beberapa baju wanita. Elena yang semula membuntutiku, beranjak ke kursi lalu duduk menghadap dinding. Aku tinggalkan dia di sana dengan tangan terlipat di pangkuan dan wajah tanpa ekspresi.

Ternyata itu kesalahan. Kekacauan terjadi setelah minggu tanpa gejolak. Entah apa dulu yang membuatku membawanya ke rumah. Kini tak henti-henti kusesali tak segera mengirimnya kembali ke rumah sakit jiwa. Perempuan itu pembawa masalah, sejak dulu sampai sekarang. Seharusnya aku tahu apa yang terbaik untuknya dan untukku.

Bunyi berdebam serta jeritan dari kamar belakang membuatku bergegas ke sana. Mataku terbelalak. Daun pintu terbuka lebar, memperlihatkan isi kamar yang berantakan. Kursi terguling di lantai. Elena baru saja menarik lepas seprai alas kasur dan mencampakkannya penuh amarah. Dari sudut mata, kulihat si pengurus rumah datang menyusul. Kehadirannya disambut hancurnya gelas yang beradu dengan dinding, membuat wanita tersebut balik kanan sambil terpekik ngeri.

“Apa yang kau lakukan?!” seruku marah, “Jangan mengacau di rumahku!”

Kutahan tangannya yang hendak melempar benda lain. Licin. Seluruh tubuh Elena banjir keringat. Napasnya tersengal-sengal. Ditatapnya aku dengan wajah merah padam dan sorot mata nyalang.

“Kembalikan anakku!” pekiknya.

Aku tercengang.

Arsip Cerpen di Indonesia