“Anak apa? Kau tak punya anak.”
Mata Elena berkaca-kaca.
“Mereka mengambilnya, mereka merampasnya dariku,” sedunya.
“Mereka siapa?”
“Api,” Mata Elena membulat. “Aku lihat api…”
Aku mendengus.
“Entah apa yang kau ocehkan. Diam atau kuusir dari sini.”
Elena merosot ke lantai. Dia gemetar, isaknya berubah jadi tangis. Perempuan dewasa itu menangis seperti anak kecil. Kupandang sebal dia sebelum keluar dari kamar lalu memberi tahu si pengurus rumah yang mengintip takut-takut agar membiarkannya.
Menjelang senja, saat kukira keadaan telah normal kembali, tercium bau asap. Perasaanku tidak enak. Setengah berlari, aku menuju kamar Elena dan membuka pintunya. Isi kamar sama persis seperti beberapa menit lalu. Yang kucari tak ada. Kuikuti bau asap yang membawaku ke halaman belakang. Firasatku terbukti. Elena menandak-nandak di dekat api yang makin besar berkobar. Entah apa yang dibakar.
“Hentikan!” bentakku.
Tangan kananku terulur, berusaha merebut benda di tangannya sambil mendorong dengan tangan kiri. Elena membalas. Perih menyengat. Ada bercak darah di ujung jari yang kugunakan mengusap leher. Elena mencakarku, tapi bukan itu yang membuatku tersentak. Di hadapanku tak ada lagi sosok wanita bertubuh kecil yang setengah sinting dan rapuh. Matanya menatap tajam, bibir menyunggingkan senyum sinis. Ia tampak kejam dan penuh tekad. Rasa dingin menjalari tulang belakangku. Aku takut.
***
Ruangan itu tak terlalu luas. Udara yang berembus dari AC mampu mengusir hawa panas siang hari itu. Berlatar belakang beberapa lukisan abstrak yang tergantung di dinding, seorang pria berpakaian putih duduk di belakang meja. Tangannya membalik-balik lembaran berkas yang dipegang. Ia berhenti membaca ketika terdengar ketukan di pintu.
“Masuk.”
“Dokter,” ujar yang membuka pintu sambil mengangguk hormat, “Kami membawanya.”
Yang disapa menunjuk kursi di depan meja dengan pulpen di tangannya.
“Dudukkan dia di sana.”