Aku tersenyum simpul menanggapi perkataan Pitaloka, kuseruput kopi latte bergambar daun yang dihidangkan pelayan kafe. Sore itu kami memilih duduk di sebuah kafe yang masih berada di komplek Peukan Budaya. Sudah lama, aku meragukan Cut Mala, perempuan Kutaraja, yang hidup dalam lingkungan sangat patriarkal bisa menjadi laksamana. Jika pun koneksi-koneksi keluarga memungkinkan perempuan itu menjadi laksamana, Cut Mala tetap perempuan Asia, bertubuh mungil, bagaimana caranya ia membunuh nakhoda Belanda yang sangat terlatih—seperti yang diceritakan dari mulut ke mulut. Andaikan Cut Nyak Dhien tidak dibuang ke Sumedang, aku juga meragukan ketangguhan perempuan tersebut dalam memimpin laskar perang. Dan Cut Nyak Dhien hidup ratusan tahun setelah Cut Mala.
“Sudah berapa kali kamu ke Kutaraja?”
“Ini yang ketiga, kepergianku sebelumnya untuk kepentingan riset.” Perempuan Pasundan itu juga menyesap kopinya.
“Hai, Pitaloka! Kapan kau tiba?” Seorang lelaki berjambang muncul, langsung menyapa perempuan di sampingku, kemudian dia menyalaminya. Aku mengenalnya sebagai politikus nasional yang berasal dari daerahku. Lelaki itu sepertinya tidak mengenalku, setelah Pitaloka memperkenalkan kami; saat bersalaman, lelaki yang benama Syah Pidie itu memandangku cukup lama. Seperti yang kamu duga terjadi dalam kisah-kisah picisan lainnya, lelaki itu meminta nomor kontakku dan hubungan kami menjadi cukup dekat. Pertama kali menghubungiku, ia menanyakan Pitaloka yang baru saja keluar bersama Syarbaini, ahli sejarah paling utama di Kutaraja.
Pada malam sebelum pembukaan simposium, Syah Pidie muncul di depan pintu rumah panggung. Kepalaku sedikit pusing sehingga tidak ikut bersama Pitaloka dan tiga perempuan lain utuk gladi resik pembukaan. Aku menerima laki-laki itu di ruang depan, duduk berselonjor di atas tikar sambil sesekali menekan kepalaku yang terasa sakit. Lelaki itu cukup menyenangkan untuk diajak berbicara. “Bagaimana pendapatmu dengan Darud Dunya?”
“Aku menyesali, kenapa kebakaran besar itu terjadi.”
Ternyata Syah Pidie tipe yang percaya pada teori kebakaran besar yang melenyapkan Darud Dunya. “Sampai tidak ada sedikit pun yang tersisa?”
“Sampai tidak ada yang tersisa.”
“Bagaimana dengan Parthenon, Erechtheum, Paestum; bangunan-bangunan Sebelum Masehi yang masih terlihat jejaknya? Atau bagaimana dengan Piramida Giza, Saqqara, maupun lembah para raja?”