Simposium

“Ah, kau terlalu jauh, Puan. Di Arab saja, masjid pertama yang didirikan Khalifah Abu Bakar telah berubah menjadi ATM, situs kuno Suriah dibumiratakan teroris, bahkan beberapa pemuda telah menghapus grafiti di dinding Gua Mayriere. Menghilang, bukan berarti tidak pernah ada, bukan?” Mayriere

“Situs-situs itu raib, tapi tercatat jelas penyebabnya.”

“Darud Dunya hilang karena kebakaran.”

“Iya, tapi ….”

Syah Pidie tertawa, “Kenapa hidupmu harus seserius ini? Santai saja, biar besok para ahli yang merumuskan teori lenyapnya Darud Dunya. Kau sudah minum obat? Bagaimana kepalamu? Menurut Pitaloka kepalamu sakit, makanya aku datang kemari.”

“Sepertinya obat sudah mulai bereaksi,” kantuk mulai menyerangku. Kemudian Syah Pidie pamit sebelum teman-temanku yang lain pulang dari persiapan pembukaan simposium; lelaki itu berjanji, besok akan menemuiku di acara pembukaan. Aku mengangguk tak bersemangat, aku kenal betul tipe lelaki politikus seperti Syah Pidie, gampang mendekati orang baru dan gampang juga melupakannya. Agam Sidro, sampai saat ini belum menemuiku juga, mungkin ia terlalu sibuk mempersiapkan acara ini. Hubunganku dengan lelaki itu juga terbilang cukup aneh, kami dekat tapi tidak benar-benar dekat. Lebih tepatnya kami hanya individu-individu egois yang menjadi dekat saat saling membutuhkan, ketika tidak saling membutuhkan, kami bisa menjadi orang yang tidak mengenal satu sama lain. Kami bisa saja menjadi sepasang kekasih saat kejenuhan menyerbu; aku dan Agam Sidro sama-sama mengambil cuti dan menghabiskan malam-malam indah di bungalow pinggir pantai yang berada di pulau-pulau kecil yang tersebar di ujung, tapi begitu keluar dari pulau itu, Agam Sidro kembali menjadi jubir sang penguasa yang memiliki keluarga dan wibawa, sementara aku kembali menjadi pengajar yang disegani orang-orang.

Keesokan harinya, peserta simposium sudah berkumpul di depan panggung utama. Marah Silau naik ke atas panggung dengan kupiah meukeutop diiringi ajudan satu, ajudan dua dan para juru bicara, satu orang sejarawan senior dan satu orang budayawan senior ditambah satu orang politikus nasional—yang menemuiku malam tadi dan kudengar selentingan kabar menjadi salah seorang sponsor acara. Salah satu dari para lelaki itu, yang rambutnya bergelombang, yang geliginya paling cerlang, yang matanya berwarna coklat adalah Agam Sidro, yang beberapa kali kusebutkan pada paragraf sebelumnya. Kulit legam Marah Silau berkilau diterpa matahari pagi, terlihat bekas luka: dari ujung dahi kanan memanjang ke pipi, konon katanya itu didapatnya saat perang berkecamuk antara pusat dan daerah dulu.

Arsip Cerpen di Indonesia