Selain kebakaran, ada pembicara yang menyimpulkan kalau gempa bumi penyebab lenyapnya Darud Dunya, pembicara lain mengatakan tsunami besar yang bisa jadi lebih mematikan dari Tsunami 2004, hanya kedua teori itu langsung terbantah karena tidak tercatat adanya gempa besar atau tsunami yang melanda Kutaraja pada tahun-tahun yang diduga menghilangnya Darud Dunya. Sementara sejarawan yang mengaku berasal dari timur, yang namanya terasa asing di telinga kami, berpendapat, para serdadu Belanda-lah yang telah merobohkan Darud Dunya, kemudian membangun kota dengan rumah-rumah berjendela besar. Para hadirin menanyakan alasan Belanda merobohkan bangunan semegah Darud Dunya, yang tidak bisa dijawab dengan baik oleh sang sejarawan. Untuk sementara teori kebakaran besar merupakan yang terkuat dan hampir menjadi hasil yang disepakati oleh semua orang. Pitaloka dalam makalahnya juga membicarakan hal yang sama.
Taman bunga, malam sebelum penutupan simposium, pukul 21.05 WIB. Kembang selanga seperti bunga porselen, membeku di dalam rumah kaca, nyamuk-nyamuk berdengung di telinga, aku celingak-celinguk mencari keberadaan Brahim. Sampai saat ini, aku belum juga berhasil mengingat di mana dulu pernah bertemu laki-laki itu. Aku hampir berniat pulang, jika tak melihat laki-laki itu muncul dari balik pohon-pohon palem yang ditanam berjajar. Lampu taman membuatku bisa mengenali wajah persegi milik lelaki itu.
“Sudah lama?”
Aku tersenyum, “Kenapa kita tidak pindah ke kafe saja?” ujarku sambil memukul nyamuk yang hinggap di ujung kaki.
“Nanti, setelah kamu ingat padaku.”
Wajah persegi, bibir atas lebih besar dari bibir bawah, tahi lalat di atas bibir, aku tetap tidak bisa mengingat, “Maafkan aku. Ingatanku telah berkhianat.”
“Waktu itu kamu masih SMP, seorang anak laki-laki dari kelas terakhir mengatakan menyukaimu di koridor sekolah, lebih tepatnya saat itu, dia mencegatmu yang baru pulang dari toilet untuk menyatakan perasaannya.”
Hening, aku mencoba menggali ingatanku. “Ya tuhan, itu kamu? Maafkan aku. Aku ingat, Brahim!” tawa kami meluncur kemudian. Aku menyalami lelaki itu sekali lagi. “Mungkin sekarang kita sudah bisa pindah ke kafe?” aku benci pada nyamuk yang terus mengincar kulitku yang terbuka.
“Nanti dulu,” lelaki itu tersenyum sedikit tegang, ada sesuatu yang disembunyikannya, sesuatu yang licik dan jahat.