Simposium

Seorang lelaki yang kuketahui bernama Brahim duduk di deret paling ujung di bawah tenda tamu lelaki. Undang-undang di daerahku telah memisahkan tempat duduk antara lelaki dan perempuan pada acara-acara formal seperti saat ini. Brahim, lelaki dengan tahi lalat di atas bibir, terus saja melirik ke arahku. Aku mencoba mengingat-ingat wajahnya, tetap terasa asing. Aku baru mengenalnya ketika tadi pagi kebetulan berpapasan ke tempat ini. Sosok aneh yang seharusnya tidak boleh muncul tiba-tiba dalam sebuah cerita.

Pitaloka menyelipkan selembar kertas ke tanganku, aku menatap perempuan itu, mencari jawaban; perempuan cantik itu malah menunjuk ke orang yang berada di sampingnya yang sama sekali tidak kukenal. Kubuka gulungan kertas yang sepertinya disobek dari buku agenda itu.

Kamu lupa padaku? Temui aku di taman bunga, besok malam pukul 21.05 WIB. Tertanda Brahim Rot Tunong.

Spontan aku menatap tempat duduk paling ujung, Brahim menatapku tersenyum. Kisah ini mungkin menjadi sedikit membosankan, ada banyak laki-laki yang terlibat. Aku kembali menatap ke panggung kehormatan mendengarkan pidato tuan penguasa yang juga membosankan. Marah Silau berharap simposium ini akan menjawab penyebab hilangnya Darud Dunya. Dia begitu yakin pada keberadaan istana, bahkan dia mengutarakan keinginannya untuk membangun ulang Darud Dunya dengan catatan bila dia terpilih lagi pada pemilihan yang akan datang. Politikus tetap politikus, rutukku dalam hati, oleh karena itu aku bersumpah untuk memilih tak memilih pada pemilu kali ini. Karena calon lain pun tak jauh beda dengan perangai Marah Silau, bahkan semakin hari mereka menjadi semakin mirip.

Setelah acara sambutan yang membosankan, seorang ahli agama dipanggil pembawa acara untuk membaca doa demi keberkahan, dilanjutkan dengan tarian saman dan seudati, ditutup rapai geleng. Syarbaini, sejarawan senior, menjadi orang pertama yang membacakan makalahnya, dan tua bangka itu tetap mempertahankan argumennnya selama ini; kebakaranlah yang telah melenyapkan Darud Dunya. Terlihat Syah Pidie mengangguk-anggukan kepala dengan senyum di bibir. Sementara air muka Agam Sidro tidak menunjuk ekspresi apa-apa. Aku sendiri mendapat kesempatan membacakan makalahku pada hari terakhir acara simposium. Hanya dua kemungkinan, orang-orang menjadi bertambah semangat atau menjadi sangat bosan, yang pasti, aku akan membaca sebuah telaah yang mengejutkan khalayak.

Arsip Cerpen di Indonesia