Samsara Samsa

Seperti mengalami sugesti hipnotik, aku melangkah menuju mesin tulis yang tadi kuletakkan di meja kecil. Kubuka dan kutekan tombol energinya. Layar menyala. Gregor Samsa ada di samping kananku, di atas buku Metamorfosis.

“Saya kira Tuan Pengarang dengan mudah bisa membantu saya. Tak ada yang lebih membahagiakan bagi Tuan selain keberhasilan menulis cerita, bukan?” ujar Gregor Samsa. Dia membalik tubuhnya menghadapku tanpa beranjak dari buku. Sungutnya bergerak-gerak. “Saya akan memberikan gagasan cerita bagi Tuan, dan saya harap Tuan bersedia menuliskannya. Saya tahu Tuan punya kemampuan. Sebelum berdiri di sini, tadi saya bersembunyi di belakang rak. Saya lihat plakat penghargaan di atas rak itu. Dan ketika saya melihat Tuan membaca buku ini, yakinlah saya, Tuan bisa menolong saya jika mau,” katanya lagi. Barangkali karena aku diam saja, dia kembali bertanya, “Apakah Tuan bersedia?”

Aku tak sungguh-sungguh yakin apakah karena penasaran atau karena hal lain, aku mengangguk dan bilang, “Baiklah. Aku bersedia.” Gregor Samsa bergerak sedikit, seperti mengungkapkan rasa senangnya. Sinar lampu neon membuat sayapnya yang terlipat berkilauan. Duri-duri di kakinya kubayangkan menusuk kulitku. Aku sedikit merinding. Gregor Samsa berkata, “Saya akan memberikan paragraf pertama. Selanjutnya saya bakal bercerita dan silakan Tuan mengolahnya. Asalkan sesuai dengan cerita saya.”

Aku tidak pernah menulis cerita di bawah kontrol siapa pun. Meski aku sering mengambil cerita kawan-kawanku yang dikisahkan secara lisan sebagai sumber, bahkan kerap sekadar menceritakan ulang dalam bentuk tulisan dengan sedikit perubahan. Tetapi kali ini aku bilang saja, “Aku siap.” Gregor Samsa berdehem sebentar, lalu memperbaiki posisi berdirinya dan berucap, “Inilah paragraf pertama itu. Tulis: Setelah mati sebagai seekor kecoak, Gregor Samsa terlahir kembali. Beribu-ribu kali. Tetapi sayangnya tetap sebagai seekor kecoak.”

Aku tercenung. “Apakah Kafka telah menulis lanjutan kisah hidupmu?” tanyaku. “Tidak,” jawabnya cepat. “Dia tidak tahu, setelah mati, saya lahir kembali beribu kali. Bahkan sampai dia sendiri mati, saya masih saja lahir di dunia ini.” Gregor Samsa tampak gusar. Dia berputar-putar di atas buku. Lalu katanya, “Sudah, jangan terlalu banyak bertanya. Bukankah tadi Tuan bilang siap? Tulis paragraf itu, lalu dengarkan lanjutan cerita saya.”

Arsip Cerpen di Indonesia