Aku ingin bertanya lagi, tapi melihat kegusarannya, aku jadi kecut, maka kutulis paragraf itu dan kubilang, “Oke, oke. Lanjutkan ceritamu.” Gregor Samsa masih gusar, dia bahkan menggerak-gerakkan sayapnya. “Ah, Tuan!” katanya. “Tuan membuat saya lupa apa yang mau saya ceritakan.” Dia terus berputar-putar beberapa saat, sebelum melanjutkan, “Pokoknya ceritanya begini: akhirnya suatu hari Gregor Samsa lahir sebagai manusia. Dia hidup, tumbuh dewasa dan mati sebagai manusia. Tuan Pengarang atur saja bagaimana itu semua terjadi, termasuk apakah setelah mati dia masuk surga atau neraka.”
Sebenarnya itu bukan permintaan yang berat. Aku seorang pengarang. Masalahnya, sekarang aku harus memakai tokoh orang lain, tokoh dari cerita yang ditulis lebih dari seabad lalu. Tetapi, sekali lagi, aku tak menolak permintaan si kecoak.
“Baik,” kataku. “Tapi aku mau bertanya, untuk apa semua ini? Apakah dengan menuliskannya, nasibmu akan berubah?”
“Tentu saja, Tuan Pengarang. Kalau tidak, saya tidak akan repot-repot berhadapan dengan Tuan. Saya tidak takut mati. Tuan dapat menghantamkan sepatu itu ke tubuh saya, toh saya akan lahir kembali. Tapi saya ingin jadi manusia lagi. Kalau Tuan sudah menulis cerita itu, maka apa yang terjadi dalam cerita, akan terjadi juga pada saya di alam nyata.”
“Tapi kenapa aku? Aku bukan Kafka,” sanggahku.
“Tidak perlu Kafka,” ucapnya. “Sejak dia menciptakan saya, saya jadi sosok yang sering dipakai sebagai contoh sisi gelap dunia modern. Saya nyata, mengada, hidup bersama manusia, dan menjadi bagian dari pemikiran mereka. Saya tidak berdaya untuk mengubah nasib sendiri, saya butuh seseorang. Dan karena saya lahir dari seorang pengarang, maka hanya seorang pengarang yang bisa menentukan nasib saya. Selama beribu kali kelahiran, saya tidak pernah bertemu dengan seorang pengarang. Saya lahir kembali di selokan-selokan. Baru kali ini saya lahir di dalam rumah, di dalam kamar mandi Tuan.”
“Ya sudah. Tapi begini, aku tidak punya pengetahuan tentang negara asalmu. Jadi, aku tidak mungkin menempatkanmu di sana. Dalam ceritaku nanti, kau lahir di negaraku, kalau bisa bahkan di kota ini. Bagaimana?”
“Terserah Tuan saja, yang penting saya jadi manusia lagi.”
Aku telah mempelajari teknik menulis cepat dari seorang pengarang muda yang cerita-ceritanya hampir setiap minggu terbit di koran. Aku juga memanfaatkan kisah hidup seorang kawan, yang sering datang ke tempatku, sebagai bahan. Sejak remaja hingga mahasiswa, kawan ini aktif sebagai aktor dan sutradara teater. Namanya cukup dikenal. Tapi setelah menikah, ia meninggalkan dunia seni dan bekerja sebagai salesman. Dengan dua modal itu, aku mulai menulis cerita tentang Gregor Samsa. Tak ada kesulitan berarti, ceritanya sudah tersedia, tinggal aku ganti nama tokohnya. Sebentar saja cerita itu pun hampir rampung. Lantas kubacakan.