Samsara Samsa

“Jadi, kisahnya seperti itu. Gregor Samsa lahir dari keluarga kelas menengah yang taat beragama. Dia tumbuh dengan baik, tak kurang suatu apa. Ketika remaja, dia mulai mengenal dunia seni. Di sekolah dia ikut sanggar teater dan menjadi bintang. Itu terus berlanjut sampai dia kuliah. Kegiatan seni membuat kuliahnya tersendat-sendat. Ini bikin orang tuanya berang…”

“Sebentar, Tuan,” sela Gregor Samsa. “Gagasan itu mengkhawatirkan. Bisakah Tuan membuat cerita yang baik-baik saja?”

“Sebuah cerita butuh konflik!” seruku. “Tak mungkin cerita bisa menarik tanpa adanya konflik.”

Gregor Samsa menjilat-jilat kaki depannya. Dia mungkin sedang berpikir. Tapi segera kulanjutkan kata-kataku, “Tenang saja. Meskipun Samsa ditentang oleh keluarga dan dia tetap teguh dengan pendiriannya, pada akhirnya dia menikah, bekerja, dan hidup bahagia.” Aku terdiam sebentar. Ragu-ragu dengan ceritaku sendiri. “Bagaimana?” tanyaku kemudian.

Gregor Samsa kembali menjilat-jilat kaki depannya. Pada saat itu, suara sepeda motor terdengar di depan rumah. Sorot lampunya menembus kaca dan gorden tipis. Menimbulkan pendar, seperti sinar pencerahan. Gregor Samsa jadi bertambah risau, dia berseru, “Bisakah Tuan tidak menjawab jika orang itu mengetuk pintu? Urusan kita belum selesai. Saya tidak mau kesempatan ini hilang.”

Terlambat. Aku tidak mengunci pintu depan dan orang itu masuk begitu saja. Dia kawanku yang sering datang, jadi tak perlu mengetuk pintu. Melihat orang itu sudah berada di dalam, Gregor Samsa panik. Dia membuka sayapnya, bersiap terbang, “Tuan Pengarang, saya akan menunggu sampai Tuan selesai. Saya harap Tuan tahu kenapa dulu saya berubah jadi kecoak,” ucapnya. Kawan yang tiba-tiba masuk itu melihat Gregor Samsa. Dia tahu aku takut kecoak. Gregor Samsa terbang dan hinggap di dinding. Kawanku memburunya. Dia meraih sebelah sepatu dan segera menghantamkannya ke tubuh Gregor Samsa. Isi perut kecoak itu terburai, tubuhnya merosot dan jatuh ke lantai. Aku termenung. Kawankuyang kisahnya jadi sumber cerita yang baru saja kutulismemang kerap datang. Biasanya dia hanya membicarakan dua hal: kehebatannya di masa lalu dan keluhan atas pekerjaan yang membuatnya tersiksa oleh rasa bosan.

Arsip Cerpen di Indonesia