Tanpa menyingkirkan tubuh kecoak, dia duduk di dekatku. Wajahnya kusut dan letih. Kualihkan pandang ke Gregor Samsa; aku rasa kecoak itu belum mati, itu artinya ceritaku harus segera rampung. Aku tatap kawanku sambil merunut ceritaku tadi. Melihat wajah dan mendengar keluhan-keluhannya, tidak mungkin dia hidup bahagia. Aku yakin dia menderita. Setelah kutimbang-timbang, kukira tak ada jalan lain. Aku terpaksa harus menutup ceritaku dengan kalimat yang nyaris sama dengan yang ditulis Franz Kafka lebih dari seabad lalu:
Ketika Gregor Samsa bangun suatu pagi, dia menemukan dirinya telah berubah menjadi seekor kecoak…
Kekalik, 2019
Kiki Sulistyo meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Tokoh Seni Tempo 2018 bidang puisi untuk buku Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018).