Suasana gelap dan senyap tanpa suara. Dingin menusuk ke rongga dada dan menggetarkan tulang-tulangnya yang terlanjur remuk. Ia merasa begitu sepi. Sendiri dan lapar yang luar biasa. Apakah sudah saatnya hatinya memanggil Tuhan. Bukan. Bukan untuk meminta ampun atau pertolongan. Tapi ia ingin mati saja seketika. Oh, tiba-tiba mual dahsyat melanda. Kepala berat luar biasa. Tubuhnya rubuh tanpa komando. Ia kembali mengerang dengan parau. Erangannya terdengar seperti lolongan binatang buas tua yang kelaparan. Terkulai bagai serangkaian tulang yang tak lagi berdaging. Kesombongan dan dosa yang dulu menggemukkannya luruh bagai timah yang dipanaskan. Jauhari lalu terdiam, ia tiba-tiba mendengar bunyi pukulan berdentum-dentum. Tak salah lagi itu seperti bedug yang ditabuh. Cepat-cepat ia mencoba mencari asal arah bunyi itu. Tak lama setelah tabuh berhenti, sayup-sayup suara azan menggema dan menegakkan kembali langkah Jauhari. Iya bergegas terseok mencari jalan keluar dari belantara yang gelap itu. Pastilah ini waktu subuh. Ia terus menelusuri jalanan di hutan itu hingga mencapai jalan bebatuan. Di ujung jalan yang sangat jauh. Tampak lampu-lampu pijar kuning dan obor kecil menyala-nyala seolah melambai ke arahnya. Ia harus mencapai tempat itu. Perutnya tak sanggup menunggu lebih lama lagi. Ia hampir mati kelaparan.
***
Keranjang bawang dan panci kukusan berserakan. Sisa nasi pun lengket berceceran di lantai. Teko rubuh dengan air yang masih menetes dari corongnya. Saiful terkejut mendapati dapur umum berantakan tidak karuan. Bukan perbuatan kucing memporak-porandakan dapur hingga begini dahsyat. Alih-alih mencari pelaku berantakannya dapur, Saiful kembali ke luar dan kembali dengan sebilah kayu yang dipegang kuat layaknya seorang samurai menggenggam sebilah katana hendak menebas siapa saja yang lewat di hadapan. Dari balik lemari pendingin daging tampak sepasang kaki dengan kotoran dan darah. Perlahan Saiful mendekat. Saat tubuh itu dapat dilihatnya dengan sempurna, Saiful menahan nafas, ia spontan megangkat kayu setinggi mungkin. Saat pandang mereka beradu. Kayu itu melayang tepat di kepala Jauhari. Teriakan Saiful selanjutnya mengundang siapa saja yang ada di asrama.
Jauhari tersadar. Kepalanya berat luar biasa. Matanya berkunang-kunang namun tak separah beberapa waktu lalu saat terbangun di hutan. Seorang lelaki datang menghampirinya tak lama setelah ia siuman. “Tenang Bang, Abang belum boleh bergerak dulu. Seharian Abang tidak sadarkan diri. Kami kira hari ini akan menelpon ambulan agar dijemput untuk dirawat di Puskesmas. Tapi badan abang kuat sekali. Kondisi Abang stabil,” jelas laki-laki itu sambil tersenyum.