Terdengar tausiah setelah magrib mulai digemakan. Jauhari berpikir untuk tidur agar lekas pulih kondisinya. “Dalam kitab Ihya, imam al-Ghazali bertutur tentang dua pendosa yang kejahatannya sungguh keji namun mendapatkan keridaan Allah dan memperoleh surganya.” Jauhari yang tadinya hendak tidur kembali membuka mata. Meski tatapannya kosong ke luar ruangan namun sengaja ingin menyimak tausiah itu. Tentang pendosa yang keji. Seperti dirinya. “Seorang bermimpi didatangi sahabatnya Yahya bin Aktsam yang sudah wafat. Dia bertanya, ‘bagaimana keadaanmu setelah wafat?’. Yahya berkata, ‘Tuhan menyebutkan semua dosa dan keburukanku, aku ketakutan dan berkata kepada Tuhan: aku berbaik sangka kepada-Mu bahwa engkau tidak akan menghukumku. Bukankah ada riwayat bahwa engkau seperti dugaan hamba-Mu?’ Dan Allah membenarkan apa yang dikatakannya, lelaki itu mendapat rahmat Allah. Sehingga diizinkan baginya surga. Imam al-Ghazali mengajak kita untuk memohon keselamatan, menebar harapan akan ampunan Ilahi. Jangan tutup pintu surga selama kami masih berbaik sangka kepada-Mu ya Allah.” Begitu indah tausiah berakhir. Jauhari memejamkan matanya. Omong kosong apa yang dipaparkan, pikirnya. Mana mungkin jahanam seperti dia bisa mendapatkan surga. Namun, perasaan tenang dan damai yang dirasakan tanpa sengaja. Keinginannya kuat agar dapat segera keluar dari tempat itu dan menumpaskan dendamnya kepada orang-orang yang sudah menjadikannya hancur seperti ini.
Jam dinding menunjuk angka dua dini hari. Insomnia mendera. Jauhari tak bisa tidur. Ingin sekali ia bangkit dari tempat tidur sekali saja. Namun apa daya tubuhnya masih kaku dan sakit. Suasana sangat sepi. Seluruh penghuni dayah telah tertidur kecuali dirinya. Dua jam yang lalu dua santri yang menemaninya pun minta izin kembali ke asrama untuk beristirahat. Hanya suara jangkrik yang terdengar nyaring. Saat aa lagi-lagi mencoba memejamkan mata, pelan terdengar langkah kaki di luar klinik. Jauhari memasang telinga dengan awas dan seksama. Langkah itu terdengar makin dekat menuju ke ruangan tempat ia di baringkan. Meski langkah itu seperti dipelankan, tapi tak dapat disembunyikan di balik senyapnya malam. Entah, jantung Jauhari berdegup kencang. Seketika tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Jauhari ingin bangkit melompat dari tempat tidurnya. Tapi tak bisa. Langkah itu terhenti tepat di depan pintu. Terdengar perlahan pintu dibuka. Sesosok tubuh tampak seperti bayangan karena lampu telah dimatikan. Hanya secercah cahaya rembulan dari luar menerangi siluet tubuh itu. Tubuh itu mendekat dengan perlahan seolah ingin menerkam.