Jauhari

Jauhari hanya diam. Dia terbaring dengan posisi setengah duduk. Cukup nyaman dan tidak nyeri seperti sebelumnya. “Abang haus? Atau lapar? Bilang saja kepada saya atau santri mana  saja yang ada di dekat Abang. Oke, Bang?  Oya, nama saya Salman. Santri di sini biasa memanggil ustad Salman. Panggil saya jika butuh apa-apa.”  Lelaki itu kemudian berlalu sesudah berbicara dengan beberapa santri di dekatnya. Lalu keluar dari ruangan yang mirip klinik sekolah itu. Jauhari merasakan nyeri badannya  berkurang. Lukanya penuh baluran dedaunan dan bau kapur sirih. Beberapa luka diperban. Namun kepalanya masih terasa pusing. Dipanggilnya seorang santri yang sedari tadi tampak mencuri pandang kearahnya. Pemuda itu datang dengan ragu dan takut. ”Jangan khawatir saya tidak bisa membalas pukulanmu karena kondisi masih belum bisa bergerak,” kata jauhari mengenal santri itu. Ia makin tertegun mendengar kata-kata Jauhari. “Maaf Bang, maaf, saya takut waktu itu. Ngeri melihat Abang,” katanya terbata. “Iya tidak apa, aku jadi bisa beristirahat seharian berkat kamu,” katanya mencoba menghilangkan kekakuan. “Siapa namamu?” “Saiful, Bang.” Mereka terdiam. “Abang? Nama Abang siapa?” “Oh, aku Haris,”  katanya berbohong. “Saiful, ini di mana ya?”  “Ini? Ini Dayah Baitul Ulum, Bang. Dayah Tempat kami mengaji. Beberapa orang tinggal di sini. Ada juga yang pulang ke rumah karena dekat.” “Iya, ok. Alamatnya di mana ini?” “Oh, Abang tidak tahu di mana lokasi ini?” Saiful lalu menjelaskan dengan detil di mana Jauhari berada. Sesaat kemudian ia bisa dengan baik mengingat lokasi tempat itu. Setelah kondisi memungkinkan ia akan segera pergi pikirnya. “Tolong bisa ambil makanan? Aku sangat lapar.” “Oke, Bang. Saya petugas dapur umum di sini. Akan saya bikin makanan yang enak dan sehat,” kata Saiful beranjak dengan segera ke dapur. “Oya kenapa sebenarnya sampai…?” tanya  Saiful tiba-tiba membalik badan sebelum keluar dari klinik. Tapi Jauhari memberi isyarat, menyuapi mulutnya dengan tangan kosong, tanda lapar, untuk menghindari berlanjutnya  percakapan. “Iya, iya, Bang!” Saiful bergegas pergi.

Jauhari perlahan menikmati makanannya saat azan magrib dikumandangkan. Ia menelan makanannya dengan susah payah. Ia masih terbaring lemah. Alunan al-Fatihah dan surat pendek dilantunkan fasih dengan muratthal. Menggema dari pengeras suara musala dayah itu. Seperti tidak asing terdengar di telinganya. Ia begitu sulit menafsirkan ketenangan yang tiba-tiba merasukinya. Belum pernah Jauhari merasa tenang seperti sekarang ini. Bukan seperti saat menghirup sabu atau ganja. Berbeda dengan saat ia larut dalam minuman yang memabukkan atau saat rekeningnya penuh dengan uang haram. Saat saalat usai dilaksanakan para jamaah riuh rendah bersalawat sembari mendengar puji-pujian yang menggema merdu. Jauhari menikmati kesyahduan itu, dan tanpa ia sadari makanannya habis menyisakan mangkuk kosong. Sementara ia tak sedikitpun merasakan sakit saat mengunyah dan menelan makanan semangkuk penuh. Aneh pikirnya.

Arsip Cerpen di Indonesia