Jauhari

Nafas Jauhari memburu dengan cepat. Matanya mencoba fokus agar tampak wajah bayangan itu. Saat sosok itu mendekat sembari  menodongkan moncong sebuah pistol yang tampaknya siap meletuskan peluru tepat di dahinya, Jauhari terkesiap “Kau, Salman…” ucapnya saat wajah itu tampak dengan jelas. “Ya, ini aku Jauhari. Ingat wanita tua yang terbakar di dalam rumahnya karena perbuatanmu?” kata pria itu dengan amarah yang diredam. Tak seperti saat pertama menyapa, wajah Salman yang teduh tampak dingin penuh dendam. Dengan yakin seolah telah melakukannya ratusan kali, Salman perlahan menarik pelatuk senjata yang siap menembus kepala pembunuh ibunya. Jauhari hanya terdiam tak berdaya. Dalam beberapa detik saja, Jauhari mencoba dengan kesungguhan hatinya, berbaik sangka kepada Tuhan yang belum dengan begitu baik dia kenal.

 

Nazmi, guru TKS Taman Qur’an Ar-Rabwah Indrapuri. Tinggal di Sibreh Aceh Besar.

Arsip Cerpen di Indonesia