Keriap

“Apakah Anda meninggalkan bayi Anda sendirian di kereta dorong ini?” lelaki muda bersyal marun silih bertanya.

Perempuan itu menggeleng.

“Lalu bagaimana bayi Anda bisa hilang?”

Kerumunan orang kian bertambah.

“Ada apa ini?”

“Bayi hilang.”

“Bayi? Hilang?”

“Iya. Bayi Nyonya ini hilang.”

“Bagaimana bisa?”

“Apa Anda yakin?”

Perempuan itu mengangguk di tengah kerumunan, “Aku bersumpah, bayiku tadi ada di kereta dorong ini, di sini, tapi sekarang sudah tidak ada.”

“Sejak kapan Anda menyadari bayi itu sudah tidak ada di kereta dorongnya?”

Perempuan itu mengibaskan tangan, tak ada yang paham maksudnya.

“Mungkin bayinya merangkak dan pergi ke suatu tempat dan luput dari pengawasan Nyonya ini.”

“Mungkin.”

“Apa bayinya sudah bisa merangkak?”

“Berapa usia bayi Anda, Nyonya?”

Suara-suara timbul tenggelam, silih berganti. Perempuan itu tak menjawab, ia malah menjatuhkan bokongnya di hamparan rumput dan menenggelamkan wajahnya di antara dua telapak tangan. Isaknya semakin redam.

“Sudahlah… Nyonya ini kehilangan bayinya, ia kehilangan bayinya… Kita tak perlu bertanya sekeras itu,” perempuan tua berkacamata menyabarkan sambil mengusap punggung si perempuan.

“Anda tenang dulu, Nyonya. Tenang!”

“Tapi, aku sudah di sini sejak dua jam yang lalu, bahkan sebelum Nyonya ini datang, dan aku tak melihat hal aneh apa pun,” lelaki tua bertongkat menerangkan dengan suaranya yang gemetar, “Aku melihat Nyonya ini datang dengan kereta bayinya, dan sekitar sepuluh menit kemudian tiba-tiba ia menjerit-jerit dan mengatakan bayinya hilang,” imbuhnya.

Arsip Cerpen di Indonesia