Keriap

“Kalian dengar, ia masih akan mengatakan itu sebanyak ratusan kali, ‘aku bersumpah, bayiku tadi ada di kereta dorong ini, di sini, tapi sekarang sudah tidak ada.’” Lelaki bersyal marun menirukan gaya bicara perempuan itu seperti mengolok-olok.

“Maaf, Tuan, Nyonya ini kehilangan bayinya,” sela si perempuan tua berkacamata, “Anda laki-laki, Anda tak tahu bagaimana rasanya kehilangan bayi. Jadi, akan lebih sopan kalau Anda tidak berkata seperti itu pada Nyonya ini.”

Suasana hening. Semua tatapan tertuju pada lelaki muda bersyal marun.

Lelaki bersyal itu mendengus kesal, “Apa? Mengapa kalian menatapku seperti itu? Tak seorang pun melihat Nyonya ini membawa bayi. Apa ada yang melihatnya? Siapa yang melihatnya?”

Riuh, tapi tak ada sahutan.

“Tapi bukan berarti Nyonya ini mengada-ada, Nyonya ini kehilangan bayi, dan Anda malah mengejeknya,” seru perempuan berkacamata dengan nada kecewa.

“Terserah kalian saja, esok ia akan kembali ke taman ini dengan tali dan kalung anjing lalu menjerit-jerit dan mengatakan anjingnya hilang, lihat saja,” lelaki bersyal marun itu berujar dengan intonasi jengkel sambil berlalu membelah kerumunan.

“Begitulah tingkah anak muda sekarang, tak tahu sopan santun,” bisik perempuan tua berkacamata pada kerumunan.

Hening sejenak.

“Sekarang bagaimana?” Tanya seseorang.

“Apa yang harus kami lakukan untuk Anda Nyonya?”

Seseorang yang lain mencoba bicara seramah mungkin.

“Mungkin kami bisa mengantar Anda pulang.”

“Aku tak mau pulang, aku mau bayiku,” perempuan itu berkeras.

Kembali hening. Berkeriap sejenak. Hening lagi. Matahari di langit taman kian meninggi. Sinarnya seperti jari-jari mungil yang mulai mencubit-cubit kulit.

“Mungkin lelaki bersyal tadi benar,” ujar seseorang sebelum menghilang di antara kerumunan.

“Aku sudah di sini sebelum matahari muncul. Aku harus pulang, terik matahari tak terlalu bagus buat lelaki tua sepertiku,” lelaki tua bertongkat berjalan perlahan menyibak kerumunan dan pergi menjauh.

“Maaf, Nyonya, aku harus pulang, aku harus bekerja. Semoga Anda lekas menemukan bayi Anda.”

“Aku juga, aku harus pulang, aku harus bekerja.”

Arsip Cerpen di Indonesia