Keriap

Suasana hening. Perempuan paruh baya itu masih saja terisak, isakannya mirip suara orang cegukan. Matahari terus memanjat ke ketinggian, tanpa peduli, dan taman itu kian berkeriap, seperti anak ayam yang dilempari menir beras.

“Aku bersumpah, bayiku tadi ada di kereta dorong ini, di sini, tapi sekarang sudah tidak ada,” suara perempuan itu sedikit lirih.

“Apa sebaiknya kita menelepon polisi?” lelaki bersyal marun mengusulkan.

“Bagaimana, Nyonya, apa kita perlu menelepon polisi?” yang lain menirukan.

“Benar. Sepertinya kita harus menghubungi polisi.”

“Bagaimana, Nyonya?”

“Bayiku,” perempuan itu masih seperti merengek di kamarnya sendiri. Orang-orang yang mengerumuninya tampak seperti dinding-dinding dan tiang-tiang dan lemari baju yang tak perlu digubris.

“Nyonya? Apa kita perlu menelepon polisi? Ini bayi Anda Nyonya, sebaiknya Anda membantu diri Anda dengan mengatakan sesuatu.”

“Bangunlah, biar kubantu membawa kereta dorongmu.” Lelaki berjaket bulu coba mengulurkan tangan, tapi tak ada sambutan. Perempuan itu malah asyik mencabuti tunas-tunas rumput di antara dua kakinya sambil terus terisak.

“Demi Tuhan, aku tak yakin Nyonya ini membawa bayi, barangkali ia hanya membawa kereta bayi dan ia melupakan sesuatu,” lelaki muda dengan syal marun kembali bersuara, diikuti anggukan lelaki tua bertongkat.

Perempuan itu mendongak, “Aku bersumpah, bayiku tadi ada di kereta dorong ini, di sini, tapi sekarang sudah tidak ada.”

“Kalau begitu, bisakah Anda menjelaskan, bagaimana bayi Anda bisa hilang?”

Perempuan itu menggeleng. “Bayiku hilang,” hanya itu yang dikatakannya.

“Iya, bayi Anda hilang. Tapi bagaimana bisa hilang.

Bagaimana mungkin bayi Anda hilang dan Anda tidak tahu? Apakah bayi itu lenyap begitu saja? Kalau begitu, barangkali ia ditelan kereta dorongnya sendiri.”

Perempuan itu memelototi lelaki muda bersyal marun dan kembali menenggelamkan wajahnya di antara dua telapak tangan.

“Lihatlah! Jawaban yang bagus. Tidakkah kalian berpikir bahwa ada yang kurang beres dengan perempuan ini?”

“Aku bersumpah, bayiku tadi ada di kereta dorong ini, di sini, tapi sekarang sudah tidak ada,” ungkap perempuan itu lagi.

Arsip Cerpen di Indonesia