“Aku juga.”
“Aku sudah terlambat menyiapkan sarapan untuk anak-anak, aku duluan.”
“Apa kita perlu menelepon polisi?” perempuan tua berkacamata bertanya pada sisa-sisa orang di kerumunan.
“Sebaiknya kau bertanya pada Nyonya itu, ia yang kehilangan bayinya.”
Satu per satu, sisa-sisa orang itu pun mulai meninggalkan kerumunan.
“Kalian mau ke mana?”
“Kami tak bisa di sini sepanjang hari dan menunggu bayi Nyonya ini merangkak datang, aku harus pulang, aku ada banyak urusan.”
“Maaf, aku juga ada janji dengan seseorang.”
“Kau?”
“Tentu saja aku harus pergi, sepertinya Nyonya ini tak mau dibantu menemukan bayinya. Coba kau tanya sendiri, mungkin ia butuh seseorang yang lebih akrab. Sesama perempuan tentu akan lebih bisa saling memahami.”
“Kau juga akan pergi?”
“Maaf.”
Seperti kerumunan semut yang dihalau terik matahari, orang-orang pergi satu per satu untuk melanjutkan hari mereka.
Perempuan paruh baya itu masih saja duduk telimpuh di sebelah kereta bayinya yang kosong. Di sebelahnya, seorang perempuan tua berkacamata berdiri dari duduknya, duduk lagi, dan berdiri lagi. Ia tampak ragu-ragu. Setelah hening beberapa saat, perempuan tua berkacamata itu pun berlalu. Diam-diam. Tanpa sepatah kata pun.
“Aku bersumpah, bayiku tadi ada di kereta dorong ini, di sini, tapi sekarang sudah tidak ada, bayiku hilang, aku bersumpah…” Perempuan paruh baya itu berkoar lagi.
Sepi. Rumput-rumput tak lagi berkeriap. Taman tak lagi berkeriap. Pagi telah menjadi begitu terik. Terlalu terik, bahkan untuk sebuah keriap. (M-2)
Mashdar Zainal, lahir di Madiun pada 5 Juni 1984. Ia suka membaca dan menulis puisi serta prosa, kini bermukim di Malang.