Kepala Patung Elstupa

Kemudian, aku datang menjemputmu. Semua keluarga yang berkumpul malam itu terdiam. Hening. Asap kopi dan rokok mengepul seperti kemenyan. Setelah kutunjuk, kau tak berkata-kata hanya mengikutiku dari belakang. Tentu saja bukanlah telunjukku yang membuat mereka diam seribu bahasa tetapi pabitara yang membawa kalosara-lah yang membuat seluruh keluargamu tak bisa berbuat apa-apa.

***

Kejadian kedua yang hampir sama malam itu, terulang kini.

Begitu banyak hal yang bergejolak dalam dada. Malam ini, aku tak bisa memicingkan mata sedikit pun padahal sudah kutelan tiga butir obat tidur. Beragam cara kulakukan, menarik selimut menutupi kepala, memutar-mutar bantal bahkan membanting-banting kepalaku di atas kasur, tetap saja mataku tak bisa terpejam. Parahnya, perutku terasa lapar, semua makanan sisa kutandaskan tapi tak pernah kumuntahkan.

Malam ini, istriku pulang lebih larut dari biasanya. Jika datang malam hari, pasti mandi lebih dulu tetapi entah mengapa ia tak mandi. Mungkin karena aku hanya melihatnya sebentar lalu tertidur lagi. Sekitar pukul empat subuh, aku terbangun. Istriku tak mengenakan pakaian. Aku memang memintanya, “Jangan pernah memakai gaun jika tidur. Cukup selimut agar lebih hemat waktu,” kataku menggoda. Maka saat itu pulalah aku membangunkannya dengan menempelkan tiga jari di bibirnya. Istriku tersenyum manja, lalu berbisik: “Kok cuma tiga, Yang? Biasanya empat?”

“Kita sama-sama capek. Tiga saja. Itu bisa lima puluh menit, loh. Harus selesai sebelum azan subuh. Aku mau tidur lagi sebab jam delapan harus ke luar kota.”

Ia memang pandai membuat dadaku bergejolak lebih cepat. Saat-saat seperti ini, aku selalu ingat pesan kakek sebelum menikah: “Sebelum menampar istrimu, usapkan pangkal ibu jarimu di sela selangkangannya.” Pesan itu selalu menggoda. Memang kuakui tak pernah lupa melakukannya.

“Kelak seluruh daging yang menyembul dari tubuh istrimu tak pernah susut sekali pun berkali-kali kau tampar.”

Aku menahan senyum sebab menampar yang dimaksud kakekku bukanlah menampar dengan tangan tetapi menampar dengan alat saluran air mungil. Sekali lagi, aku tersenyum kecil. Tapi senyumku kadang kecut jika mengingat lanjutan pesan kakek: “Setiap lubang kunci memiliki kenyamanan bagi pemilik rumah dan serangga.” Pesan terakhir ini tak bisa kumengerti. Aku hanya menduga, itu adalah kata-kata mutiara pernikahan.

Arsip Cerpen di Indonesia