“Kenapa kau bunuh?” Bentak mereka berulang-ulang. Sebagai jawaban, aku hunjamkan kepalaku ke wajah mereka jika mendekat. Beberapa dari mereka memaki panjang-pendek. Seorang lelaki yang gigi depannya jatuh, memukulku dengan pentungan berkali-kali. Entah berapa kali aku pingsan tapi rasanya sangat cepat terbangun lagi. Mereka selalu mengucapkan kalimat yang sama, “Tersangka memukul kepala korban pertama sebanyak tujuh kali dengan kepala patung menyebabkan korban pertama meninggal dunia. Tersangka memotong tangan, kaki, dan dada korban kedua sebanyak tujuh kali menyebabkan korban kedua meninggal dunia.”
Samar-samar aku mengingat kejadian pagi tadi.
Pukul enam pagi, aku berangkat ke rumah istriku. Seperti biasa, anakku, Elstupa tidur di rumah ibunya. Aku memang punya jadwal hari ini mengantarnya ke sekolah sebab istriku telah menikah dengan teman sekantornya. Ia terpaksa kuceraikan setelah terbukti janin yang dikandungnya adalah milik teman sekantornya.
Hati suami siapa yang tak gaduh? Hati siapa? Kataku menahan emosi saat itu. Sebuah keputusan keluar. “Hai lelaki yang menghamili istriku, ada dua pilihan untukmu, jika kau keluar dari rumah ini, bawa istriku, kalau kau tinggal, duduk saja di situ,” kataku menahan tangis. Kedua tanganku bergetar. Sebilah parang dan sebatang pohon pisang dari rumah mertua kupegang sejak tadi.
Ia keluar dan istriku menyusul. Aku menahan geram lalu menebas batang pisang setelah bayangan mereka hilang dari pintu. Kudiamkan saja mereka. Anakku masih tertidur dalam gendongan ibunya. Sebab jika lelaki itu duduk, maka parang ini langsung menebas lehernya. Sebenarnya tak akan terjadi kejadian mengerikan jika suami mantan istriku itu tak melakukan hal mengerikan.
Biasanya pukul enam seperempat, Elstupa sudah berdiri depan pintu menungguku tapi pagi ini kudengar jeritnya melengking tinggi sekali. Aku melesat masuk rumah. Di depan mataku sendiri, suami dari mantan istriku itu menebas tangan, kaki, dan dada anakku. Istrinya terbaring lesu. Aku hanya melihat darah berceceran di selangkangannya.
Perutku tiba-tiba mual tapi entah mengapa tanganku bergetar hebat. Sebelum ayunan parang itu menebas leher istrinya, secepat kilat, kepala patung yang terletak di atas meja kamar kulemparkan tepat di kepalanya. Ia terpelanting keras. Sekali lagi patung itu kuayunkan ke batok kepalanya. Ia masih bergerak-gerak. Mantan istriku tiba-tiba bangkit mendorongku lalu mengambil kepala patung, memukul berulang-ulang kepala suaminya.
“Kubunuh kau setan. Setan kau. Mati saja kau.” Ia seperti kerasukan. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku hanya mengambil kembali kepala patung.
***