Sembilan tahun kami menikah, efeknya luar biasa. Jika hari libur, kami jarang keluar rumah. Sebab sebelum sarapan, makan siang, makan malam dan setelah makan malam pasti kami melakukan adegan tampar lebih dari dua kali. Itu tak termasuk tamparan sebelum azan subuh. Sepertinya, dada istriku semakin membusung. Pinggulnya selalu padat bahkan jika saling tampar, aku selalu menggoda, “Yang, sepertinya kasur kita ini harus memakai selang.”
“Ah, Abang…. kenapa?”.
“Setiap baku tampar, aku selalu kebanjiran hingga sering memintanya berulang-ulang. Mungkin itulah sebabnya, saluran air mungilmu selalu minta lebih dari dua kali.”
Kalau sudah begitu, istriku hanya membalasnya dengan dekapan yang erat dan selalu serasi mengikuti gerakan apa pun yang terjadi.
Anak-anak muda yang melihat istriku selalu menanyakan apa yang dipakai hingga tubuhnya selalu remaja. Kadang aku cemburu, jika ada anak muda dari kelurahan tetangga yang mengantar undangan ke rumah, lalu melihat istriku, mereka sering menggoda dengan pertanyaan yang nyaris sama: “Pak, anaknya sekolah mana? Boleh kenalan ndak?”
Keterkejutanku justru terjadi malam ini. Ketika kuciumi rambut alisnya, aku mencium bau yang berbeda. Seluruh rambut tubuhnya sudah kuciumi tapi aku mengerti baunya sama seperti sembilan tahun yang lalu. Tak pernah berubah. Mengapa rambut alisnya justru berbeda? Aku tak bisa menafsirkan baunya seperti apa tapi bau itu sangat kukenal bukan bau tubuhnya.
“Apakah ada orang lain yang mencium istriku?” Gumamku dengan hasrat tertahan.
“Kenapa, Yang?” tiba-tiba ia bertanya.
Aku hanya tertegun. Memandangnya berkali-kali lalu kukatakan, “Kepalaku mendadak pusing.”
Maka kumintalah ia bergerilya di seluruh kepala. Biasanya cara itu paling ampuh untuk memejamkan mata. Sudah beragam cara ia lakukan. Mulai dari menarik helai demi helai rambutku seperti mencabut uban, menindisnya seperti telur kutu, menggaruk-garuk, bahkan meremas-remas rambutku, tetap saja mataku tak bisa terpejam. Parahnya, perutku pun mulai mulas. Jika menelan sesuatu sedikit saja, makanan apapun, tak sampai semenit pasti kumuntahkan.
***
Kejadian ketiga kali melebihi dua kejadian sebelumnya. Selain tak bisa tidur dan perut mual, kedua pelipisku berdarah, menganga sebesar jari kelingking. Selain sulit bernapas karena sebelah lubang hidungku sudah tertancap sebatang rokok menyala. Gigi depanku pecah tak beraturan. Tujuh orang lelaki yang semula berpakaian kecokelatan kini benar-benar hitam. Mereka seperti patung prajurit Tawuna Ula. Entah berapa kali pentungan dan tendangan mengenai dadaku.