“Berapa jumlah sapi yang diserahkan kepada peternak?”
“Itu seperti yang tertera di data.”
“Data ini belum membuktikan apa pun.”
“Sebagian data masih di komputer. Pendataan lebih lanjut sedang dikerjakan oleh anak buahku.”
“Berarti masih didata? Hmm…”
Aku manggut-manggut, sedang Has tampak membaca kesan yang kutunjukkan.
“Secepatnya,” lanjutnya. “Ada sejumlah permasalahan kecil. Tapi tidak lama. Mudah diselesaikan.”
Aku masih manggut-manggut menyimak. Tanpa berkata-kata. Ini adalah cara yang sering kugunakan: menebar kesan, seakan sudah menyimpulkan sesuatu tapi aku hanya diam.
Keakraban dan keceriaan yang tadi mulai mencair berubah menjadi kepura-puraan. Tatapannya menegang. Merasa terjerat. Apa yang kupelajari dari lelaki di sampingku ini adalah gerak-geriknya berusaha menutupi sesuatu.
Sesekali supir curi-curi pandang ke arah kami melalui cermin di hadapannya. Sekali beradu ia langsung membuang mata.
“Bagaimana keadaan anak-anakmu?”
Tensi turun. Aku masih punya banyak pertanyaan yang tidak mungkin kutembakkan begitu saja tanpa sedikit permainan. Sebelum pikirannya berubah dan mulai bicara kacau, aku hanya perlu menurunkan tensi untuk memberinya jeda agar tidak terlalu tegang.
“Anak-anakku makin tumbuh. Dan aku senang mereka mulai mandiri dan paham sibuknya pekerjaanku.”
“Istrimu?”
“Istriku.”
Ada pikiran yang berkecamuk ketika kutanyakan itu. Ia sedikit tertegun ketika kupanggil namanya.
“Oh, iya. Dia baik-baik saja. Kami orang-orang berkarier. Dia fokus pada kariernya. Aku beruntung, ia bukan perempuan yang lupa tempatnya di dalam keluarga.”
“Wah, senangnya.” Aku bertepuk ringan. “Dengar-dengar bisnis kulinernya sukses besar. Aku pernah ke sana, kira-kira dua bulan lalu. Dari istrimu aku tahu, kalian rupanya sudah lama berumah tangga.”