Hologram

Aku terus bicara, tapi tanganku masih mengacak-acak dan mata terus membelalak isi map. Lembaran yang menurutku banyak cacatnya.

“Bagaimana bisnismu yang di perabotan itu?”

“Sedang merangkak…”

“Sebentar!” potongku. “Sepertinya masih ada yang kurang lengkap.”

Ia melongok.

“Ow itu?! Aku juga baru tahu.”

“Secara syarat ini belum terpenuhi. Kecuali kalau ada bukti konkret yang bisa Anda tunjukkan.”

“Maksudmu?”

“Ini hanya di atas kertas. Selebihnya adalah bukti nyata yang bisa Anda perlihatkan. Bukan orang yang bisa Anda hubungi. Karena itu tak akan membantu.”

“Baiklah.” Has mengisyaratkan kepada si supir untuk diantarkan ke peternakan.

Sepanjang perjalanan ia memangku dagu. Kaki tak berhenti bergerak. Mata melompat keluar jendela. Berkali-kali ia meraih ponsel dan menjentikkan jarinya di layar. Hanya seperti itu, lalu menekuri pemandangan di luar. Ia tampak menyembunyikan sesuatu. Dan kupikir ia hendak menelepon seseorang. Namun demi mendengar kata-kataku tadi ia mengurungkan niatnya.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia mengangkat dan berbicara pelan sambil membelakangiku. Berkali-kali ia menaikkan intonasi lalu menyurut seperti ombak sehabis pecah. Menimpuk paha sambil mengumpat. Ia melirikku tanpa kupahami maksudnya. Selesai berbicara ia menyentuh dada, seperti berusaha menenangkan diri. Senyum sumirnya membuatku kesal. Sejak awal aku tidak nyaman dengan perawakannya. Cara bicara yang mengentengkan semua dan tampak mengawan seperti gaya kebanyakan politisi. Pada akhirnya, bui menjadi rumah selanjutnya yang mungkin akan didiami.

Aku mendelik.

“Maaf, ya! Barusan saya dikasih tahu, rupanya ada orang yang mencatut nama saya untuk memuluskan proyeknya. Makanya saya tadi sempat marah. Tapi ia mengaku terlanjur.” Ia kembali menimpuk pahanya. “Dasar anak muda zaman sekarang, selalu ingin didukung dari belakang!”

“Jadi apa yang akan Anda lakukan?”

“Hah?” ia tampak tidak siap. “Hmm… Akan saya pertimbangkan nanti. Yang pasti, itu tidak bisa dibiarkan.”

“Berapa lama lagi kita tiba di sana?”

“Sepuluh menit lagi, Mbak,” sahut supir.

Arsip Cerpen di Indonesia