Hologram

Sepuluh menit itu terasa lama. Duduk untuk membicarakan persoalan serius. Belum lagi kekakuan semenjak aku menjegal dengan pertanyaan dan pernyataan untuk membuat rentang. Itu terasa sesak dan mendesak. Aku pun sudah bosan. Terus mengayunkan pancing kepada target yang sudah jelas. Namun hanya perlu memperkuat dugaan menjadi bukti yang konkret.

Kupikir setelah ini, aku mau cuti beberapa hari, berpelisir sejenak dengan anakku, merontokkan kekakuan seperti ketombe, mengumpulkan semangat untuk memberantas mafia politik, hukum, perdagangan dan semua oknum yang menjadi penyakit bagi negara besar ini.

Berkali-kali menghadapi orang-orang yang melacurkan kejujuran dan kepercayaan tidak semudah menghadapi anak-anak sekolah dasar. Mereka tidak hanya terdiri dari tubuh yang berotak. Tapi juga setan berwujud manusia. Demi kepentingan, demi uang, mereka rela meninggalkan statusnya sebagai makhluk berakal. Menghambakan diri pada kefanaan yang justru akan menghancurkannya sebelum mati.

Mobil berbelok ke sebuah hamparan dengan sisi yang dilebati pepohonan. Sapi-sapi berkeliaran, merumput dan berak sembarangan. Tak peduli disepuh matahari. Sebuah kandang yang panjang terpojok di utara. Empat orang lalu lalang di antara buntut dan tanduk sapi.

Aku turun dari mobil untuk melihat-lihat kondisi dari peternakan itu lebih dekat. Has enggan turun dengan alasan yang kukira dibuat-buat. Sebagaimana laporan dari peternak, selama ini ia tidak pernah turun lapangan untuk meninjau langsung kondisi dari proyek yang ditujukan untuk pemberdayaan masyarakat. Dana melimpah sudah digelontorkan negara.

Setelah bercakap-cakap dengan peternak, aku pamit. Has yang sibuk menelepon langsung sigap begitu aku masuk ke mobil. Ia mematikan ponselnya dan bertanya, “Bagaimana?”

Aku duduk menenangkan diri.

“Ben! Ben! Apa kau mendengar?”

“Kamu bicara dengan siapa?” Has berkedut diliputi rasa penasaran. Dan seharusnya begitu.

“Ya, ya, ya! Sebentar!” suara sahutan itu membuat Has kaget. Sejenak kemudian sebentuk wajah hologram muncul.

“Hai, Has! Hai, Jen!” suara sapaan itu membuat Has tak mampu menutupi ketakutannya.

“Apa-apaan ini?”

Arsip Cerpen di Indonesia