Seekor Lumba-lumba Menyeretnya Menuju Samudera

Kakiku masih melangkah menyusuri tepian sungai. Dengan tangan kiri menggenggam tangan bocah laki-laki kurus, hitam, dekil dan hanya mengenakan celana kumal sebatas lutut itu. Kutaksir usianya sekitar enam tahun, tingginya tidak sampai batas pinggangku. Warun, begitu namanya ketika kami berkenalan beberapa menit lalu. Di tangan kananku tergenggam sebotol air mineral yang kubeli di warung sebelum menuju tempat ini.

Pendar mentari sore menerabas melalui celah-celah rimbunan bambu dan jatuh di permukaan air mengalir. Sebagian jatuh di ujung rambut kami. Untungnya masih ada beberapa rimbunan bambu yang berkelompok-kelompok di sisi yang kami susuri. Sebab di sepanjang sisi yang lain, tepi sungai sudah lebih mewah dengan berdinding beton.

Warna air yang kuning kecokelatan ditimpa bias mentari menciptakan kerlipan yang indah. Kalau begini aku tak perlu ke surga untuk menikmati sungai yang katanya mengalirkan susu. Sebab di dunia saja sudah kujumpai sungai cappucino dengan buih-buih putih menghiasi beberapa bagian permukaan.

Sayangnya, aku tak begitu menyukai kopi. Aku tak tahu cara menikmatinya. Karena itu pula aku kagum pada para pecinta kopi. Apalagi mereka yang dengan membedakan jenis kopi hanya dengan mencium aromanya. Juga pada mereka yang menikmati seduhan kopi dengan segala nilai filosofis di setiap teguknya. Luar biasanya mereka. Teh dengan sedikit campuran susu atau teh tanpa gula lebih nikmat kurasa.

“Kamu mau apa ke sini?” tanyanya tanpa melihat wajahku.

“Tidak ada, hanya ingin berjalan-jalan saja.”

Dia melepaskan tangannya dari genggamanku. Kaki mungilnya berlari kecil ke arah pepo­honan yang di bawahnya terdapat sebuah batu besar dan mendudukinya. Aku mengikutinya dengan langkah lambat. Layaknya seorang yang sedang mendalang, lumba-lumba biru itu ayun-ayunkan kesana kemari dengan tangan kanan. Dari mulutnya keluar ocehan-ocehan yang tidak begitu jelas kudengar. Lumba-lumba itu terlihat seperti sedang menari dan bernyanyi dengan riangnya.

Seperti cemara di musim Natal. Beberapa rumpun bambu yang lain terlihat begitu indah. Bungkus deterjen, bekas bungkus cemilan dengan rasa keju. Beberapa popok bayi yang sudah digunakan dan beberapa helai pakaian robek menggantung di ketiak-ketiak daun bambu. Beberapa umpatan, cacian dan makian juga berjumbai di pucuk bambu melambai-lambai ketika diterpa angin.

Arsip Cerpen di Indonesia