Seekor Lumba-lumba Menyeretnya Menuju Samudera

Tumpukan tomat busuk, kaleng-kaleng susu bekas, botol bekas dan banyak lagi sisa-sisa kesombongan manusia. Sudah tidak terpakai, ditumpuk mejadi bukit-bukit kecil. Layaknya kebusukan pada umumnya, tumpukan kesombongan itu menyebarkan bau busuk yang sungguh menyesakkan.

Aku segera mengeluarkan sapu tangan berwarna merah dengan sulaman berwarna emas dari saku belakang celana jeans yang kukenakan. Kuperbaiki lipatannya dan kugunakan sebagai penghalau agar bau tak sampai masuk ke rongga hidung. Sapu tangan ini adalah pemberian kekasihku. Ya, aku punya kekasih. Oh, ya! Ini bukan pemberiannya. Aku yang meminta darinya ketika dia akan pergi dengan damai.

Kekasihku, Maya. Seorang perempuan lembut yang teramat mengagumi bulan. Tubuhnya tidak tinggi semampai apalagi proporsional untuk seorang perempuan di iklan sabun mandi. Begitupun soal rambut, dia selalu menggerai rambutnya yang bergelombang dengan panjang sebahu. Kupikir lebih indah dari pada rambut yang dimiliki duta sampo manapun.

“Kekasihku, belajarlah keikhlasan dari bulan,” ucapnya suatu malam ketika kami duduk berdua  memandangi purnama di beranda rumahnya.

“Kau tahu? Dia memancarkan kembali pantulan cahaya yang dia sadari bahwa itu bukan sepenuhnya miliknya. Memberi apa-apa yang diberi padamu. Jika cahaya pemberian matahari penuh, maka dia akan memberi kita cahaya sepenuh itu di malam hari. Pun sebaliknya. Begitulah hidup, kekasih.”  Kulihat kedua bola matanya tiba-tiba menjelma mejadi sepasang purnama.

Suatu hari kekasihku Maya berpamitan kepadaku. “Kekasihku, aku akan menemui bulan.” Bibirnya bergoyang mengeluarkan kata-kata.

“Dia memanggilku. Tunggulah aku. Aku akan kembali kepadamu.” Tangannya lembut menghapus air mata yang sudah membanjir di kedua belah pipiku dengan sapu tangan merah. Sapu tangan itu kemudian berpindah pada kedua mata purnamanya yang juga sudah basah.

“Lekaslah kembali.” Kulambaikan tangan setelah aku meminta sapu tangan itu darinya.

Saat ini selalu kuciumi aroma perpisahan yang tetinggal di sapu tangan itu, kala rinduku padanya riuh tak teredam.

Mengingat hal itu, mataku terasa hangat. Sebulir air bening terasa keluar dari sudut mataku. Tenggorokanku terasa mengering. Kucari-cari disekelilingku air mineral dalam kemasan yang seingatku sudah kubawa sejak tadi.

Arsip Cerpen di Indonesia