Di tengah kegiranganya, tanpa disangka-sangka lumba-lumba itu menangkap sebelah kaki Warun dan berusaha menyeretnya ke hulu. “Tolong…, Tolong aku!” teriaknya sembari menangis. Aku berusaha mengejarnya dan berhasil menangkap sebelah tangannya. Lumba-lumba itu makin beringas berusaha menyeretnya. Tangisannya makin menjadi. Kemana lumba-lumba ini akan membawanya? Apakah menuju lautan seperti yang dikatakan Warun?
Tanganku masih menggenggam erat tangannya. Berusaha menariknya menjauhi sungai. Sial! Kakiku tersandung pada sebuah batu di dalam air. Aku terjerembab terkatung-katung di dalam air. Genggamanku terlepas. Tubuhku kuyup seluruhnya. Tangisku pecah. Lumba-lumba itu berhasil menyeretnya menuju samudera.
“Nak Warun, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu telungkup di dalam sungai maghrib-maghrib begini?” Seorang bapak mengejutkanku. Aku terperanjat. Kulemparkan pandangan ke sekeliling dan segera membangkitkan tubuh. Kulihat di tanganku masih tergenggam sapu tangan merah dan sebuah boneka lumba-lumba berwarna biru.
Binjai, 27 Maret 2019