Seekor Lumba-lumba Menyeretnya Menuju Samudera

“Ah.” Aku menemukannya.

“Warun, kau mau?” kusodorkan botol berisi air mineral kepadanya. Dia langsung menerima dan meneguknya kemudian mengembalikannya padaku setelah selesai.

Kupandangi botol air mineral di genggaman yang sebagian isinya sudah membasahi kerong­kongan kami. Sial! Kenapa kami harus bergantung pada air minum dalam kemasan, sedangkan di hadapan terdapat air yang mengalir dengan santai.

“Sampah itu sungguh bau, ya?” ucapnya sembari tetap memainkan bonekanya.

“Dulu, orang-orang tidak suka sampah. Mereka lebih suka sungai. Mandi di sungai, mencuci di sungai dan bermain di sungai.” Aku tertegun mendengar ucapannya.

“Segalanya akan sampai ke muara. Sebagian masuk ke mulut ikan dan sebagian lagi tersangkut di tepian. Begitu ‘kan?” Kulanjutkan kalimat darinya.

“Seluruhnya akan ditelan oleh samudera.” Jawabnya beriring tawa kami berdua.

Kulihat Warun semakin lincah memainkan boneka lumba-lumbanya. Boneka itu perlahan-lahan semakin membesar. Warun melemparkan bonekanya ke dalam air. Tubuhnya menjadi nyata. Nafasku tercekat di tenggorokan. Bahkan teriakan minta tolong pun tak sanggup keluar dari bibirku.

Lumba-lumba itu jauh dari kata lucu nan menggemaskan seperti yang pernah kulihat di layar televisi atau pun di kebun binatang. Wajahnya menyeringai buas. Giginya lebih tepat menjadi gigi hiu dibandingkan berada dalam rahang makhluk bertubuh lumba-lumba seperti itu. Bahkan kulit tubuhnya tercabik di sana-sini.

Warun begitu kegirangan melihat lumba-lumbanya menggelepar di air yang permukaannya semakin surut dan berubah menjadi kehitaman. Dia bersorak-sorai penuh kegembiraan. “Lihat! Dia menari! Ayo kita menari bersama!” Warun menceburkan diri ke dalam air. Dia ikut menggelepar bersama dengan lumba-lumba penuh luka.

“Sungai yang baik. Terima kasih banyak, hari ini kami akan menari bersamamu.” Teriaknya.

Seperti sedang kesurupan, lumba-lumba biru itu bergerak tak beraturan ke sana ke mari. Tubuhnya menggeliat. Dari mulutnya keluar suara-suara lengkingan menyeramkan disertai bau anyir yang menyeruak.

Indera penciumanku nyaris mati rasa menghirup bau busuk yang menyebar ke segala penjuru hingga sudut-sudut alveolus. Nyaris meledak paru-paruku dibuatnya. Sapu tangan merah itu juga tak sanggup lagi membendung aroma yang memaksa mengobok-obok rongga hidungku.

Arsip Cerpen di Indonesia