Tenggelam di Matamu

Sebelum berangkat, aku sekali lagi melihat ke cermin. Hanya untuk memastikan bahwa aku benar-benar keren. Tak kalah dengan beberapa mantan pacarmu yang sampai sekarang masih saja berharap untuk bisa mendapatkan cintamu lagi. Cermin itu membuatku merasa percaya diri terlepas dari kenyataan bahwa kata teman-temanku, aku sangatlah biasa.

***

Lagu-lagu dengan tema cinta yang mendayu sengaja aku putar untuk menemani perjalananku. Sambil menyetir, beberapa kali aku ikut bersenandung, menirukan lirik lagu yang memang beberapa kuhapal. Beberapa lagu yang sengaja kuputar kuanggap bisa mewakili perasaanku. Salah satunya, All I Want-nya Kodaline.

Sementara pikiranku menerawang ke tempat lain yang berujung pada matamu. Bening Pitaloka, menurutku orangtuamu memang sangat pas membe­rikan nama itu. Matamu bening bagaikan air telaga yang membuatku betah tenggelam di sana. Ditambah lagi tatapan sayumu seperti orang mengantuk itu semakin menegaskan bahwa di sana adalah tempat beristirahat terbaik setelah aku lelah bekerja.

Aku masih teringat jelas saat kita sering makan malam bersama.

“Kamu kenapa ngelihatin aku terus?” katamu.

“Sudah, kamu makan saja yang banyak,” jawabku tanpa terlalu memperhatikan pertanyaanmu.

“Nanti kalo aku gendut gimana?”

“Segendut-gendutnya kamu, tetap muat di hatiku,” jawabku sambil meringis kemudian bibirmu akan sedikit manyun disusul tanganmu yang memukul pundakku. Tentu bukan pukulan keras mematikan seperti petinju, melainkan pukulan lembut yang menandakan bahwa kamu tersipu.

Namun belakangan aku baru tahu arti namamu, Pitaloka. Menurut kamus yang kubaca beberapa minggu lalu, Pitaloka mempunyai arti, Yang telah berlalu.

***

Selama perjalanan menuju ke tempat kita akan bertemu, tak jarang aku menemukan kenangan yang tercecer di sana. Seperti di penjual wedang ronde. Saat malam terasa dingin, kamu selalu mengajakku ke sana. Sementara aku yang sebenarnya tidak terlalu suka dengan minuman yang berasal dari China itu, tak bisa menolak. Karena bagiku, bisa bersama dan menatapmu saja sudah merupakan kehangatan tersendiri.

Arsip Cerpen di Indonesia