Saat mobil yang kukendarai melewati penjual arum manis, aku juga langsung teringat denganmu. Tiap kali melihat kembang gula itu, kamu selalu merengek minta dibelikan. Rengekanmu adalah sesuatu yang membuatku tak berdaya hingga kemudian aku akan berhenti dan membelikan apa yang kamu minta. Meskipun aku tahu kembang gula itu tidak benar-benar kamu makan. Kamu hanya suka karena warnanya pink. Setelah kamu mencuilnya sedikit, kamu akan memberikannya padaku. Jika dinalar, itu sesuatu yang menyebalkan, namun anehnya aku tetap suka dengan perlakuanmu itu. Memang terkadang cinta bisa keluar dari batas nalar.
Usai memarkir mobil, aku menuju ke kafe yang sering kita kunjungi. Sebelum masuk ke sana, aku mencuri pandang, melihat wajahku di kaca pintu kafe. Sekali lagi untuk memastikan bahwa tatanan rambutku tidak berubah. Aku memilih meja paling pojok. Sengaja agar tidak terlalu terlihat oleh orang-orang.
“Wah, jam segini kok sudah datang?” tanya Abi sambil menyodorkan menu. Dia pelayan kafe yang memang sudah akrab denganku.
Aku hanya tersenyum.
“Aku pesan seperti biasa, iced coffee latte dan nachos,” jawabku sambil mengembalikan buku menu.
“Siap. Nunggunya yang sabar ya?”
Kafe ini tetap saja ramai seperti biasanya. Apalagi di saat jam pulang kerja. Menghabiskan pengujung hari bersama dengan orang terdekat memang salah satu pilihan terbaik untuk melepas lelah. Seperti salah satu pasangan yang duduk tak jauh dari mejaku. Dari pakaian yang mereka kenakan, jelas terlihat mereka pegawai kantoran. Pria berdasi itu ngobrol sambil tangannya memegang erat tangan si perempuan. Mata mereka terpaut, seperti saling tenggelam di dalamnya. Mereka sama sekali tak memedulikan sekitar. Mungkin mereka merasa bahwa kafe ini hanya milik mereka berdua.
Di sisi meja lain, aku juga melihat seorang lelaki yang menyuapi perempuan di depannya persis anak kecil. Padahal aku mengira usia mereka tak jauh dari angka tiga puluh tahun. Saat melihat kejadian itu, aku menyimpulkan ketika jatuh cinta, siapa saja bisa berubah menjadi anak kecil yang membutuhkan perhatian.
Setelah beberapa kali melihat jam di layar handphone, akhirnya yang aku tunggu-tunggu datang. Kamu terlihat memesona dengan short dress hitam. Dress itu tak benar-benar menutupi pahamu yang mulus. Hampir semua lelaki di kafe ini mencuri pandang ke arahmu. Bibir tebalmu nampak semakin menggoda dengan lipstik berwarna merah bata. Rambutmu dikuncir seperti biasa. Menyisakan rambut tipis yang menghiasi leher.