Tenggelam di Matamu

Kamu sibuk menulis pesanan. Sementara aku melihat matamu yang bening seperti telaga. Kamu tidak sadar ketika matamu telah menenggelamkanku. Mata terindah yang pernah kulihat. Mengalahkan keindahan senja maupun pemandangan ombak yang menyapu pantai. Selesai dengan pesanan, kamu tersenyum, menyodorkan tanganmu di atas meja. Kemudian tanganmu digenggam erat oleh pria yang berada di depanmu.

Namun aku akan tetap duduk di sini. Melihat matamu dan tenggelam bersama kenangan kita. Seperti arti dari namamu, Pitaloka, yang telah berlalu.

 

* Komunitas Sastra Kamar Kata, November 2018

Arsip Cerpen di Indonesia