“Lihatlah! Pelangi di sini beda dengan pelangi yang kita lihat di Kota Malang,” cetusnya.
“Pelangi di sini pasti sama seperti pelangi yang ada di Nördlingen?” Aku berbasa-basi.
“Ah, tahu apa kau soal Jerman,” katanya manja sambil meninju pelan dadaku.
“Setidaknya aku tahu tentang pelangi, Fräulein!” Bualku.
“Dan sekarang kau juga sudah tahu tentang kehamilanku. Ini anakmu!” Katanya sambil mengelus perutnya.
“Iya, aku tahu itu anakku. Anak kita!”
“Aku ingin anak ini tumbuh bersama ayahnya.”
***
Di dunia ini, tak ada yang lebih membingungkan kecuali Kathrin. Usianya menginjak 20 tahun, jauh lebih muda ketimbang aku. Kathrin mengaku sangat membenci perjalanan. Ia lebih menyukai suasana rumah. Keramaian, lalu-lalang manusia dan kendaraan membuatnya jengah. Sedangkan keheningan rumah, baginya, adalah surga yang terdampar di bumi.
Pertama kalinya kami bertemu di Candi Badut di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Saat itu, ia sibuk dengan kamera lensa panjang. Mata hijaunya mengintip lubang kecil di kamera itu. Setiap lekuk dan sudut Candi Badut ia abadikan.
Aku tak tahu persis, aktivitas memotretnya adalah sebagai kegemaran atau pekerjaan profesional. Kathrin sendiri tak pernah membuat pengakuan resmi soal ini. Ia memang membingungkan. Kini kebingungan itu benar-benar menulari hidupku.
“Aku lebih suka berdiam diri di rumah, dari pada kluyuran seperti ini. Di Nördlingen, keluargaku memiliki rumah mungil nan nyaman,” katanya.
“Oh, jadi kau dari Jerman, Fräulein?” Balasku. Sejak saat itu, aku memanggilnya ‘Fräulein’, sebutan ‘nona’ dalam Bahasa Jerman.
“Memangnya di dunia ini ada kota bernama Nördlingen, selain di Jerman? Ngomong-ngomong pengetahuan geografimu lumayan juga,” sergahnya sambil terkekeh.
“Untuk apa gambar-gambar Candi Badut itu?”
“Gambar-gambar ini akan muncul dalam majalah dan website.”
“Kau fotografer?”
“Kadang-kadang!” Jawabnya seperti pembual.