Nördlingen

Sebelum ke Candi Badut, berhari-hari lamanya Kathrin terdampar di lereng Gunung Penanggungan, Pasuruan-Mojokerto. Bersama arkeolog asal Perancis, Kathrin memotret petilasan yang berserakan di lereng Penanggungan.

“Aku benar-benar rindu suasana Nördlingen. Tapi, sebelum pulang, aku harus motret di Jawa Tengah, Jawa Barat, Selat Sunda, Danau Toba, Aceh, dan Jepang. Semoga Jepang tidak membosankan,” katanya sewaktu membuka obrolan di sebuah kafe, di tengah Kota Malang.

Sejak pertemuan di Candi Badut, kami membuat pertemuan kedua, ketiga, dan seterusnya di tempat yang sama. Kafe di tengah Kota Malang selalu kami pilih karena berdekatan dengan hotel yang ditinggali Kathrin, dan berdekatan pula dengan bank papan atas tempatku bekerja. Senja adalah waktu yang selalu kami pilih, dan Bahasa Inggris ala kadarnya adalah bahasa yang kami gunakan dalam setiap obrolan.

Tiba-tiba, ia mengundangku datang ke kamar hotelnya pada Minggu pagi yang basah. Pertemuan di pagi hari sungguh janggal, sebab kami sudah terlalu sering menjalin pertemuan di kala senja. Gerimis membuat jaketku sedikit basah ketika masuk ke kamar hotelnya.

“Bosan dengan suasana kafe. Hari ini ngobrol di kamar saja, sambil menikmati gerimis dan kopi,” cerocosnya ketika membuka pintu kamarnya yang terletak di lantai tujuh.

Sebelum aku datang, Kathrin memesan menu breakfast agar diantarkan ke kamarnya. Ia sengaja meminta menu dobel. Dua potong sandwich nanas, dua potong omlet berhias sosis, sekantung kentang goreng, dan semangkuk salad buah kami lahap bersama-sama.

Selepas menghabiskan menu breakfast ini, gerimis perlahan punah. Kejantanan matahari mulai giras. Kopi yang dihidangkan Kathrin juga sudah kandas. Ia membuat kopi kedua untukku dan untuknya.

“Aku berani bertaruh, setelah ini pasti akan muncul pelangi. Jika pelangi tak muncul, kau boleh menciumku,” katanya sambil jari telunjuknya menyentuh bibirnya yang berkilau.

“Oh begitukah cara warga Nördlingen merayakan pelangi, Fräulein? Dan pasti kucium bibirmu, sebab pelangi tak akan tumbuh di pagi ini,” balasku.

Nasib baik tidak berpihak padaku; ternyata pelangi benar-benar tumbuh di pagi hari di Kota Malang. Kami sama-sama tertegun melihat pelangi itu lewat kaca jendela kamar hotel.

Arsip Cerpen di Indonesia