Nördlingen

Selepas menemaninya memotret Istana Kokura dan mendapat suguhan pelangi, serta mengetahuinya hamil, kami tak lagi bicara selama perjalanan pulang. Pun ketika kami tiba di hotel di jantung Kitakyushu, tak ada sebiji kata yang kami ucapkan. Makan malam pun kami lakukan sambil membisu.

Di kamar hotel, ia sibuk dengan laptop; memilih gambar terbaik hasil dari jepretannya seharian tadi. Aku sungkan mengajaknya ngobrol—aku tak ingin mengganggu kesibukannya. Ada segunung kebingungan yang menindih kepalaku. Semua rekam jejak tentangnya tiba-tiba melintas di depanku. Mulai dari pertemuan pertama di Candi Badut hingga akhirnya aku meninggalkan pekerjaan dan menyusulnya ke Jepang, semua tergambar jelas.

Ingin kukatakan bahwa aku akan bertanggung jawab; bersedia menikahinya dalam situasi apa pun. Namun, untuk mengawali pembicaraan, aku masih merasa sungkan dan keberanianku juga belum bulat. Yang bisa kulakukan hanyalah meringkuk di balik selimut sambil memperhatikannya.

Kathrin terlihat mematikan laptopnya, memasukkan kamera, lensa, dan aksesoris lainnya ke dalam tas, serta membereskan kertas-kertas yang berserakan. Lampu kamar yang terang ia ganti dengan lampu redup. Kemudian ia menyusulku masuk ke balik selimut.

“Kuulangi lagi, aku hamil,” ucapnya sambil memiringkan tubuhnya, bibirnya nyaris menyentuh telingaku.

“Iya, aku tahu apa yang harus aku lakukan, Fräulein. Aku bersumpah, demi keindahan surga Nördlingen, anak ini akan tumbuh bersama ayahnya. Langit Kitakyushu jadi saksinya. Percayalah!” Balasku.

“Aku ngantuk,” desisnya sambil tangan kanannya merayapi perutku.

 

Kitakyushu-Malang, 2016

Arsip Cerpen di Indonesia