Nördlingen

“Benar kan kataku!” Teriaknya sambil mengejekku dengan cara menjulurkan lidahnya.

Ia julurkan lidahnya sambil mendekatkan ke arah wajahku, hingga lidah itu nyaris menyentuh hidungku. Lidah itu kemudian kembali ke sarangnya. Ia tempelkan bibirnya ke bibirku. Bibir kami saling tikam. Darahku mendidih ketika tangannya mencekik leherku. Cekikan ini sangat manja, membuat pagi terbakar.

Tubuhnya yang jenjang dan bongsor menyeret tubuh kurusku ke atas ranjang. Disaksikan pelangi Kota Malang, kami bercinta beberapa kali hingga matahari sudah menerobos ke pucuk kota. Siang bolong. Kulihat kaca jendela, pelangi itu sudah ngacir.

“Kau sudah mengambil batu permata paling berharga yang kumiliki,” katanya di balik selimut.

***

Entah sudah berapa minggu kami berpisah. Teror bingung membuatku buta waktu. Tiga atau empat hari setelah adegan pelangi di kamar hotel, Kathrin meninggalkan Kota Malang. Dari stasiun kota, Kathrin meluncur menuju Jawa Tengah. Entah mengapa Kathrin memilih jalur darat yang lebih lama? Bukankah ia mengaku membenci perjalanan!

Sekian lama kemudian, ketika ia tiba di Aceh, ia meneleponku. Ia bercerita panjang lebar tentang semua hal yang ia lihat selama menjelajahi Pulau Jawa hingga ujung utara Pulau Sumatera. Di sela-sela cerita yang dituturkannya, entah itu melalui telepon atau ketika kami ngobrol langsung di Malang, ia selalu menyelipkan kerinduan terhadap Nördlingen.

“Kau harus ke Nördlingen!” Suaranya terdengar manja di telepon genggamku.

Cerita tentang Nördlingen yang selalu diulang-ulang olehnya, membuatku hafal. Dalam memori otakku, Nördlingen adalah kota yang lahir akibat ulah meteor pada 14,5 juta tahun silam. Saat itu, meteor raksasa jatuh menghantam Jerman dan meninggalkan cekungan yang luas.

“Di cekungan itulah kemudian dibangun kota bernama Nördlingen, kota yang kucintai,” entah sudah berapa kali pernyataan ini kudengar dari mulutnya.

Menurutnya, semula warga mengira cekungan itu adalah bekas letusan gunung berapi. Namun, sebuah penelitian akhirnya menyimpulkan; Nördlingen berdiri bukan di atas bekas letusan gunung berapi, tapi berdiri di atas bekas hantaman meteor.

“Tak ada kota di dunia ini yang seindah Nördlingen. Jika dilihat dari atas udara, Nördlingen tampak berbentuk lingkaran. Tuhan sengaja mengirim meteor ke bumi untuk menciptakan surga bernama Nördlingen,” katanya sebelum mengakhiri obrolan di telepon.

***

Arsip Cerpen di Indonesia