Sampai saat ini Nima sendiri tidak pernah tahu sperma lelaki siapa yang berhasil membuahi rahimnya itu. Perempuan itu tidak pernah menghitung berapa jumlah lelaki yang tidur dengannya dalam semalam. Ia tidak pernah mau ambil pusing soal itu. Baru setelah Nima lambat datang bulan, pikirannya mulai bercabang-cabang, menduga-duga jika ada sesuatu yang tumbuh dalam perutnya. Keterkejutan melingkar di wajah Nima setelah ia meminta Mak Murken, dukun beranak di Jalan Garincang itu mengatakan bahwa ada janin yang tumbuh di dalam rahimnya.
Tentu saja, Nima meminta Mak Murken agar menggugurkan kandungan itu. Nima tak pernah berharap ada janin tumbuh di dalam perutnya, terlebih ia sendiri tidak tahu siapa lelaki yang berhasil membuahi rahimnya tersebut. Mak Murken menggelengkan kepalanya. Ia menolak permintaan Nima. Tegas Mak Murken mengatakan tidak akan pernah mau menuruti keinginan Nima.
“Saya tidak mau berdosa, saya bukan pembunuh.”
“Ini aib. Bantulah saya membuang aib ini Mak. Sama sekali tidak berdosa, justru pahala bagi Mak.” Nima terus membujuk, coba meluluhkan hati Mak Murken. Tapi tetap saja Mak Murken menggelengkan kepalanya.
“Tetap jaga kandunganmu sampai lahir. Semoga anak yang kau kandung itu menjadi simpananmu menuju surga.”
Sepanjang perjalanan pulang Nima kepikiran dengan kata-kata terakhir Mak Murken. Kata-kata Mak Murken seperti memiliki kekuatan luar biasa menyentuh ulu hatinya yang terdalam. Pikiran Nima tambah bercabang, antara mempertahankan bayi dalam kandungannya atau menggugurkannya.
Butuh waktu lama bagi Nima untuk mengambil keputusan. Tercenung dan berpikiran macam-macam tempurung kepalanya. Tidak mudah bagi perempuan seperti Nima memutuskan persoalan rumit yang tengah ditimpakan Tuhan kepadanya. Berhari-hari Nima berpikir keras, mencari keputusan yang pas sampai akhirnya Nima mengambil sikap tetap merawat janin yang tumbuh dalam perutnya itu.
Selama sembilan bulan Nima juga harus membiarkan dirinya dikutuk, dikata-katai oleh para tetangga. Selalu setiap pagi, gendang telinga Nima mendengar orang-orang mengatainya sebagai pendosa bahkan mereka terang-terangan berkata lantang di depan wajah Nima. Perempuan itu tidak balas mengutuk, Nima malah tersenyum menerima cibiran dan cacian itu apa adanya. Nima mengaku bukan perempuan suci, bahkan pernah Nima berkata ia memang tengah mengandung anak dari hasil perbuatan dosanya sendiri.