Surga Simpanan

Setiap pelajaran mengaji selesai, Haji Ibrahim kerap menceritakan kisah-kisah para nabi. Tidak hanya itu, Haji Ibrahim juga membuka pertanyaan pada mereka mengenai apapun. Mata Hardi berbinar-binar ketika Haji Ibrahim menuturkan setiap kehebatan mukjizat yang dimiliki para nabi. Hardi mengangguk-anggukan kepalanya melihat gaya bicara Haji Ibrahim yang sangat memikat pendengarnya.

“Apa ada nabi yang dilahirkan tanpa seorang ayah?” Hardi melihat ke wajah Haji Ibrahim. Lelaki bersurban itu tersenyum memandangi raut muka Hardi. Ia tahu kemana maksud pertanyaan Hardi.

“Ada. Dia adalah putera Maryam. Nabi Isa.”

“Saya tak tahu siapa ayah saya. Apa ibu saya itu seperti Maryam?”

“Hanya ada satu Maryam di dunia ini. Selebihnya Wallahu A’lam

“Apakah seorang anak bisa menyelamatkan ibu dari ancaman api neraka?” Hardi tahu betul apa pekerjaan ibunya. Untuk itulah ia bertanya, khawatir sang ibu dilumat api neraka di akhirat kelak.

“Terputuslah semua amal manusia ketika ia meninggal, kecuali tiga hal, pertama sedekah, kedua ilmu yang bermanfaat, ketiga doa anak saleh yang senantiasa mengalir kepada orang tuanya.” Hardi menghela napas, melegakan tenggorokannya yang terasa tersumbat sejak tadi.

Hardi pun kian terobsesi menyelamatkan ibunya dari ancaman api neraka. Ia bahkan mulai punya nyali menegur ibunya agar berhenti melayani setiap lelaki yang membeli tubuhnya. Berulang-ulang tangan Nima mendarat di pipi tirus Hardi, berulang-ulang pula Hardi mengingatkan ibunya pada kematian. Wajah Nima merah padam.

Nima tidak pernah kembali ke rumah sejak tiga hari lalu. Pastilah ia enggan pulang lantaran mulut Hardi kerap bicara kematian. Hardi memikirkan nasib ibunya. Bersila di atas sajadah, sembab matanya memohon kepada Tuhan agar sang ibu segera pulang. Rupanya, setelah sekian lama terjawab doa Hardi pada sore yang kelam. Nima pulang tanpa napas. Seseorang mengantarkan jasad Nima. Ia meninggal setelah kelelahan melayani pelanggannya dan minum bir secara berlebihan.

Haji Ibrahim datang menguatkan Hardi. Tumpah air mata Hardi dalam pelukan lelaki bersurban itu. Kematian ibunya dengan cara tragis seperti ini membuat mata Hardi menerawang, membayangkan ibunya berada di tepi jurang neraka. Diseret tubuh Nima, lalu dilempar ke dalam api telaga. Sekejap api telaga itu mampu mengelupas seluruh kulit Nima, sekejap pula tubuh yang hancur itu kembali seperti sediakala, dan begitulah terus menerus yang akan terjadi. Alangkah menakutkan bayangan itu di mata Hardi.

Arsip Cerpen di Indonesia