Surga Simpanan

“Jangan kamu bertanya, siapa ayahmu. Masih untung kau lahir ke dunia, masih untung kau dirawat!” Nima mengatakannya pada Hardi. Bocah itu menundukkan wajahnya.

Sejak itu, Hardi tak pernah berani lagi bertanya soal siapa ayahnya. Hardi dapat memahami cerita yang dituturkan ibunya. Hardi tak sanggup membendung air matanya untuk jatuh di atas bantal. Ia menangis bukan lantaran pekerjaan ibunya, tetapi bocah itu merasa kenapa dirinya dilahirkan tanpa tahu siapa ayahnya. Apa mungkin aku titisan dari banyak lelaki yang tidur dengan ibu? Hardi menyimpan pertanyaan itu sendiri dalam dadanya.

***

Menjelang sore, entah malaikat dari mana yang menyambangi Hardi, di usia yang cukup tua untuk ukuran bocah seperti dia belajar salat. Setelah sekian lama Hardi berjalan di lorong gelap akhirnya malaikat itu menuntunnya ke masjid, tempat anak-anak seusianya belajar salat dan mengaji kepada Haji Ibrahim selepas Maghrib. Bocah itu berdiri di depan masjid dengan rupa kebingungan. Haji lbrahim mengajaknya ke dalam.

Hardi beroleh pertanyaan dari Haji Ibrahim. Lirikan anak-anak yang lain membuat Hardi agak gugup untuk menceritakan siapa dirinya. Hardi menceritakan saja yang sebenarnya. Sesunggunya sudah sejak lama Hardi ingin belajar mengaji di masjid itu, tapi Nima tak pernah mengizinkannya lantaran khawatir orang-orang akan mengutuk, mengata-ngatainya sebagaimana yang dialaminya dulu. Kedatangannya ke masjid ini pun tanpa sepengetahuan sang ibu. Lagi pula, kata Nima kepada Hardi waktu itu, tak usahlah pandai mengaji kalau mulut tetap diperdaya iblis, digunakan untuk mengata-ngatai orang. Hal ini diucapkan Nima, mengingat ia pernah dikutuk oleh orang-orang yang saban Maghrib dilihat oleh Nima berbondong-bondong menuju ke masjid itu.

Hari pertama Hardi membuka siapa sesungguhnya dirinya dan hari pertama itu pula bagi Hardi belajar agama pada Haji Ibrahim. Ia disambut baik oleh anak-anak yang lain. Mereka menerima Hardi apa adanya. Tidak sedikit pun mulut mereka merobek perasaan Hardi. Haji Ibrahim mengagumi kepandaian Hardi dalam belajar mengaji. Sangat cepat Hardi menangkap pelajaran mengaji yang diuraikan Haji Ibrahim.

Hampir satu bulan Hardi diam-diam belajar mengaji di masjid. Nima tak melihat gelagat mencurigakan yang ditunjukkan anak lelakinya itu. Empat bulan ini Nima selalu berangkat bersamaan dengan adzan Maghrib dan saat itu pula Hardi membawa langkahnya ke masjid. Kadang Hardi terlambat datang dikarenakan sang ibu mengunci pintu rumah dan membawa serta kunci itu. Dengan susah payah Hardi terpaksa mencongkel jendela dapur.

Arsip Cerpen di Indonesia