“Angin memang agak jarang bertiup akhir-akhir ini, Mak,” ucapku menanggapi.
Perempuan itu berdeham pelan. “Nak Rusdi sudah selesai salat asar?” tanyanya seperti sedang mengalihkan percakapan tentang daun-daun angsana.
Aku mengangguk pelan. Dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat kalau mata renta itu ditutupi kabut katarak. Melihat ketidakberdayaannya, rasanya sulit dipercaya jika perempuan renta yang hidup sebatang kara ini gila dan aku lebih tak percaya lagi jika dikatakan ia gila lantaran azab dari dosa-dosa yang diperbuatnya.
Sekali waktu aku pernah tak sengaja menguping pergunjingan ibu-ibu perihal Mak Rubay. Konon di masa mudanya, perempuan ini adalah lintah darat paling kejam di kampung Lubuk Kasui. Ia senang memberi pinjaman uang kepada orang-orang yang terbelit kesulitan. Namun pinjaman itu tidak diberikan cuma-cuma. Jika tak sanggup mengembalikan beserta bunganya yang berlarat-larat itu, maka Mak Rubay tak akan segan-segan menyita barang apa saja milik si peminjam.
Bahkan, dikatakan pula bahwa ia pernah menyita sehelai kasur kapuk milik keluarga miskin. Kasur kapuk itu ditiduri oleh anak yang sedang sekarat karena orang tuanya tak memiliki uang lagi untuk berobat. Orang tua anak itu tak mampu mengembalikan uang pinjaman kepada Mak Rubay. Satu-satunya barang berharga milik mereka hanyalah sehelai kasur kapuk milik si anak. Benda itulah yang disita paksa oleh Mak Rubay.
Sebenarnya ada tiga orang yang bernama Rubay di kampung ini, namun jika ditanyakan siapa Rubay paling kikir dan paling kejam, maka tak akan ada yang bisa menyangkal, Mak Rubay di hadapanku inilah orangnya. Dan tak heran jika lantaran profesi itu dirinya dibenci dan dijauhi sampai sekarang.
“Bisakah Nak Rusdi menolongku?”
Pertanyaan perempuan tua itu membuyar lamunanku tentang dirinya. Kupandangi wajah kusut itu dengan perasaan iba. Tak ada kesan menakutkan lagi di sana. Yang tersisa hanyalah raut lelah dan sinar redup di sepasang matanya. Kisah-kisah menyeramkan tentang dirinya di masa muda, seolah menguap oleh penderitaan hidup di masa tuanya.
“Katakan saja,” jawabku tersenyum dan mencoba meyakinkannya, “aku pasti akan menyampaikannya.”
Sekelumit kutangkap raut gembira di wajah Mak Rubay saat mendengar kesediaanku. “Tolong sampaikan pada orang-orang di kampung ini agar tidak menebang pohon itu untukku,” ucapnya sambil menunjuk ke arah pohon angsana yang merimbun di hadapan kami.